13 Desember 2012

Sistem Indera pada Manusia

Indera berperan sebagai reseptor, yaitu bagian tubuh yang berfungsi sebagai penerima rangsangan.

Anatomi Sistem Indera
Indera manusia ada lima sehingga disebut panca indera, yaitu: mata (indera penglihat), telinga (indera pendengar), hidung (indera pencium), lidah (indera pengecap), dan kulit (indera peraba).

1. Mata (Indera Penglihat)
Mata berfungsi sebagai penerima rangsang cahaya (fotoreseptor).
Bentuk bola mata bulat seperti bola bekel atau bola pingpong. Diameternya lebih kurang 2 cm. Sebagian besar terletak didalam rongga tengkorak.
Mata tersusun dari:

a. Pelindung bola mata
  • Alis : Merupakan  rambut yang terletak diatas  mata. Berfungsi untuk melindungi mata dari keringat.
  • Bulu mata : Merupakan rambut yang terletak di kelopak mata. Berfungsi melindungi mata dari cahaya kuat, debu, dan kotoran.
  • Kelopak Mata : Terdiri dari kelopak atas dan kelopak bawah. Berfungsi untuk melindungi mata dari benturan.
  • Kelenjar air mata : Menghasilkan air mata. Air mata berfungsi untuk membasahi kornea mata agar tidak kering, sebagai pelumas agar mata mudah digerakkan, dan membersihkan mata dari debu dan bakteri. Kelenjar air mata mengeluarkan air mata pada saat kita mengedipkan mata.

b. Bagian luar bola mata 
  • Kornea (selaput bening) : Berfungsi menangkap cahaya yang masuk ke mata. Bersifat tidak berwarna (bening) dan tidak mempunyai pembuluh darah.
  • Otot mata : Berguna untuk menggerakkan bola mata sehinga dapat bergerak ke kanan-kiri dan ke atas- bawah. Ada enam otot mata yang berfungsi memegang sklera. Empat di antaranya disebut otot rektus (rektus inferior, rektus superior, rektus eksternal, dan rektus internal). Otot rektus berfungsi menggerakkan bola mata ke kanan, ke kiri, ke atas, dan ke bawah. Dua lainnya adalah otot obliq atas (superior) dan otot obliq bawah (inferior).

c. Bagian tengah bola mata
  • Iris (selaput pelangi) : Merupakan selembar otot yang terletak di belakang kornea. Iris suatu jaringan yang kaya dengan pembuluh darah. Warna iris berfungsi memberikan warna pada mata. Slain itu iris dan pupil berfungsi mengatur banyak sedikitnya cahaya yang masuk ke mata.
  • Pupil (anak mata) : Merupakan celah (lubang) bundar yang ada di tengah-tengah iris. Berfungsi mengatur banyak sedikitnya cahaya yang masuk ke mata
  • Lensa : Terletak di belakang pupil dan iris. Berfungsi memfokuskan dan meneruskan cahaya yang masuk ke mata agar tepat jatuh ke retina. Lensa mata mempunyai  kemampuan untuk mencembung dan memipih untuk memfokuskan jatuhnya cahaya yang disebut daya akomodasi.
  • Badan bening : Terletak di belakang lensa. Bentuknya seperti agar-agar. Berfungsi meneruskan cahaya yang telah melewati lensa. Cahaya itu selanjutnya disampaikan ke retina.

d. Bagian dalam bola mata
  • Retina (selaput jala) : Merupakan selaput yang terletak paling belakang. Retina berfungsi sebagai tempat jatuhnya bayangan sehingga dapat melihat. Pada lapisan ini terdapat bagian yang paling peka terhadap cahaya yaitu bintik kuning (fovea). Selain itu juga terdapat bintik buta, yaitu tempat keluarnya saraf mata. Pada retina tersusun kurang lebih 125 juta sel-sel batang (sel basilus) yang mampu menerima rangsang cahaya tidak berwarna dan untuk melihat pada keadaan cahaya redup. Selain sel batang, pada retina juga terdapat kurang lebih 7 juta sel kerucut (sel konus) yang berfungsi menerima rangsang cahaya kuat dan berwarna. Sel kerucut lebih banyak terdapat pada bagian bintik kuning (fovea centralis). Di retina juga dijumpai daerah yang sama sekali tidak mengandung sel batang ataupun sel kerucut. Bagian ini disebut bintik buta. Bila cahaya jatuh di daerah ini, kita tidak bisa melihat apa - apa.
  • Saraf mata : Berfungsi untuk meneruskan rangsang cahaya yang diterima. Rangsang tersebut diteruskan ke sususnan saraf pusat yang berada di otak. Dengan demikian, kita dapat melihat suatu benda.

Proses melihat : mata bekerja saat melihat objek. Tanpa cahaya, mata tidak dapat menjalankan fungsinya. Cahaya memasuki mata melalui pupil. Lensa mata mengarahkan cahaya sehingga benda jatuh pada retina. Kemudian, ujung-ujung saraf penerima yang ada di retina menyampaikan bayangan itu ke otak.setelah diproses di otak, kita dapat melihat benda itu.

2. Telinga (Indera Pendengar)
Telinga berfungsi sebagai penerima rangsang getaran bunyi (fonoreseptor) dan tempat beradanya indera keseimbangan (statoreseptor).
Telinga tersusun dari :

a. Telinga luar
  • Daun telinga : Daun telinga manusia mempunyai bentuk yang khas. Daun telinga berfungsi untuk menampung atau mengumpulkan gelombang bunyi.
  • Saluran/lubang telinga (saluran auditori) : berfungsi untuk menyalurkan gelombang bunyi ke selaput gendang telinga. Lubang telinga panjangnya kurang lebih 2,5 sentimeter. Di sepanjang dinding lubang telinga terdapat rambut halus, kelenjar minyak dan kelenjar keringat, yang berfungsi menghalangi debu dan air yang masuk.
  • Membran tymphani / Gendang telinga : Rongga telinga tengah berhubungan dengan telinga luar melalui membran tympani. Membran tympani berfungsi menerima rangsang bunyi dan meneruskannya ke bagian yang lebih dalam.

b. Telinga tengah
  • Tulang pendengaran : yaitu berupa tiga tulang kecil yang menghubungkan gendang telinga dengan jendela oval. Tiga tulang pendengaran (tulang martil, landasan dan sanggurdi) berfungsi memperkuat getaran dan meneruskannya ke koklea.
  1. Tulang martil / malleus : Terletak paling luar, menempel pada gendang telinga dan tulang landasan. Kedua tulang ini terikat erat oleh ligamentum sehingga mereka bergerak sebagai satu tulang.
  2. Tulang landasan / incus : Menghubungkan martil dan sanggurdi.
  3. Tulang sangurdi / stapes : Melekat dengan saluran rumah siput pada tingkap jorong. Antara tulang landasan dan tulang sanggurdi terdapat sendi yang memungkinkan gerakan bebas. 
  • Saluran eustachius : yaitu saluran sempit yang menghubungkan telinga tengah dengan bagian belakang tenggorokan. Saluran ini terbuka saat kita mengunyah, menguap, bersin atau membuka mulut. Berfungsi untuk memasukkan udara ke rongga telinga tengah sehingga tekanan udara di kedua gendang telinga sama dengan udara di luar tubuh.

c. Telinga dalam
  • Tingkap jorong / Jendela oval : Tingkap jorong merupakan membran berbentuk oval yang menghubungkan tulang sanggurdi dan koklea. Berfungsi untuk menyalurkan getaran ke telinga dalam.
  • Tingkap bulat / Jendela bundar : tingkap bulat merupakan membran berbentuk bulat, terdapat pada pangkal koklea. Berfungsi sebagai penyeimbang getaran.
  • Koklea / Rumah siput : Yaitu saluran berbentuk spiral menyerupai rumah siput. Di dalam koklea terdapat organ korti, yang berisi ribuan sel rambut yang peka terhadap getaran. Impuls yang timbul di dalam sel rambut tersebut diteruskan oleh saraf auditori ke otak. Koklea terdiri dari tiga saluran yang sejajar, yaitu: 
  1. saluran vestibulum yang berhubungan dengan jendela oval. 
  2. saluran tengah dan saluran timpani yang berhubungan dengan jendela bundar.
  3. saluran kanal yang dipisahkan satu dengan lainnya oleh membran. 
Di antara saluran vestibulum dengan saluran tengah terdapat membran Reissner, sedangkan di antara saluran tengah dengan saluran timpani terdapat membran basiler. Dalam saluran tengah terdapat suatu tonjolan yang dikenal sebagai membran tektorial yang paralel dengan membran basiler dan ada di sepanjang koklea. Sel sensori untuk mendengar tersebar di permukaan membran basiler dan ujungnya berhadapan dengan membran tektorial. Dasar dari sel pendengar terletak pada membran basiler dan berhubungan dengan serabut saraf yang bergabung membentuk saraf pendengar. 
  • Tiga saluran setengah lingkaran / kanalis semi sirkularis : Tiga saluran setengah lingkaran (kanalis semi sirkularis), yaitu tiga buah saluran setengah lingkaran yang satu dengan yang lain membentuk sudut 90°. Pada ujung setiap saluran terdapat penebalan (menggelembung) yang disebut ampulla dan bergabung dengan utrikulus dan sakulus. Tiga saluran setengah lingkaran, ampula, utrikulus dan sakulus merupakan organ keseimbangan, dan keempatnya terdapat di dalam rongga vestibulum dari labirin tulang.

Proses mendengar : getaran bunyi masuk ke dalam lubang telinga. Apabila getaran bunyi mencapai gendang telinga, maka gendang telinga ikut bergetar. Getaran gendang telinga menggetarkan tulang-tulang pendengaran. Selanjutnya, tingkap jorong dan rumah siput ikut bergetar. Demikian juga dengan cairan limfa di dalam rumah siput. Cairan limfa merangsang ujung-ujung saraf. Ujung-ujung saraf menyampaikan rangsangan bunyi tersebut ke otak. Dengan demikian. Kita mendengar bunyi.

3. Hidung (Indera Pencium)
Hidung berfungsi sebagai penerima rangsang bau berupa gas (kemoreseptor).
Hidung tersusun dari:
  • Lubang hidung : berfungsi untuk keluar masuknya udara.
  • Rambut hidung : berfungsi untuk menyaring kotoran yang masuk ke hidung.
  • Selaput lendir : berfungsi menjaga kelembapan udara dalam hidung, tempat menempelnya kotoran dan sebagai indera pembau
  • Pembuluh darah : berfungsi menghangatkan udara yang masuk ke hidung.
  • Serabut saraf : berfungsi mendeteksi zat kimia yang ada dalam udara pernapasan.
  • Saraf pembau / sel olfaktori : berfungsi mengirimkan bau-bauan yang ke otak. Ujung-ujung saraf pembau terletak pada selaput lendir rongga hidung bagian atas, kerang hidung atas dan permukaan atas kerang hidung yang tengah. Pada ujung saraf pembau terdapat selaput lendir yang berfungsi sebagai pelembab.
Proses mencium : Bau dapat tercium jika bau tersebut sampai di rongga hidung. Bau menimbulkan rangsangan yang kemudian diterima oleh ujung-ujung saraf pembau yang ada di hidung. Rangsangan bau tersebut diteruskan ke otak. Dengan demikian, kita dapat mencium bau.

4. Lidah (Indera Pengecap)
Lidah berfungsi sebagai penerima rangsang zat yang terlarut (kemoreseptor).
Pangkal lidah dapat mengecap rasa pahit, tepi lidah mengecap rasa asin dan asam serta ujung lidah dapat mengecap rasa manis.
Lidah juga berfungsi sebagai alat bicara dan pengatur letak makanan.
Lidah terletak didalam mulut. Permukaaan lidah kasar karena penuh bitil-bintil yang disebut papila. Pada binti-bintil lidah terdapat saraf pengecap. Lidah merupakan otot yang tebal. Pada pangkal lidah terdapat kelenjar limfa berlapiskan selaput yang berlendir.
Ada tiga jenis papila yang ada di permukaan lidah yaitu:
  • Papila sirkumvalata, yang berbentuk cincin. Papila ini terdapat di pangkal lidah, berjajar membentuk huruf V.
  • Papila fungiformis, yang berbentuk seperti jamur. Papila ini menyebar di permukaan ujung dan sisi lidah.
  • Papila filiformis, yang berbentuk seperti rambut. Papila ini merupakan papila terbanyak. Papila ini lebih banyak berfungsi sebagai perasa sentuhan daripada pengecap. 
Proses mengecap : Makanan atau minuman yang masuk ke dalam mulut memberi rangsangan ke ujung-ujung saraf pengecap. Rangsangan dari makana tersebut kemudian diteruskan ke otak. Dengan demikian, kita dapat mengecap (merasakan) makanan atau minuman tersebut.

5. Kulit (Indera peraba)
Fungsi kulit antara lain:
  • Sebagai penerima rangsang sentuhan (tangoreseptor) / indera peraba 
  • Menghasilkan keringat dan minyak 
  • Melindungi tubuh dari sinar matahari 
  • Melindungi otot dari gesekan benda luar 
Macam-macam reseptor pada kulit adalah:
  • Korpuskula Meissner : Terletak di dekat permukaan kulit. Berfungsi untuk menerima rangsang sentuhan/ rabaan.
  • Korpuskula Pacini : Terletak di bawah lapisan dermis. Berfungsi menerima rangsang tekanan.
  • Korpuskula Ruffini : Terletak di lapisan dermis. Berfungsi untuk menerima rangsang panas.
  • Korpuskula Krause : Terletak di lapisan dermis. Befungsi untuk menerima rangsang dingin.
  • Korpuskula ujung saraf terbuka: Terletak di lapisan epidermis. Peka terhadap rasa sakit/ nyeri.
Kulit terdiri dari epidermis (lapisan luar) dan dermis (lapisan dalam).
Pada epidermis tidak terdapat pembuluh darah dan sel saraf. Epidermis tersusun atas empat lapis sel (dari bagian dalam ke bagian luar) :
  • Stratum germinativum berfungsi membentuk lapisan di sebelah atasnya. 
  • Stratum granulosum yang berisi sedikit keratin yang menyebabkan kulit menjadi keras dan kering. Selain itu sel-sel dari lapisan granulosum umumnya menghasilkan pigmen hitam (melanin). Kandungan melanin menentukan derajat warna kulit, kehitaman, atau kecoklatan. 
  • Stratum lusidum merupakan lapisan yang transparan.
  • Stratum korneum atau lapisan tanduk. 
Penyusun utama dari bagian dermis adalah jaringan penyokong yang terdiri dari serat yang berwarna putih dan serat yang berwarna kuning. Serat kuning bersifat elastis/lentur, sehingga kulit dapat mengembang.
Stratum germinativum mengadakan pertumbuhan ke daerah dermis membentuk kelenjar keringat dan akar rambut. Akar rambut berhubungan dengan pembuluh darah yang membawakan makanan dan oksigen, selain itu juga berhubungan dengan serabut saraf. Pada setiap pangkal akar rambut melekat otot penggerak rambut. Pada waktu dingin atau merasa takut, otot rambut mengerut dan rambut menjadi tegak. Di sebelah dalam dermis terdapat timbunan lemak yang berfungsi sebagai bantalan untuk melindungi bagian dalam tubuh dari kerusakan mekanik.
Proses meraba : Sentuhan yang dilakukan pada semua benda menghasilkan rangsang. Rangsang itu diterima oleh reseptor kulit. Kemudian, rangsang itu diteruskan oleh reseptor ke otak. Dengan demikian, kita dapat meraba suatu benda.

Alat Indra dapat kita bagi ke dalam 3 kelompok :
  1. Kemoreseptor adalah alat indera yang merespon terhadap rangsangan zat kimia yaitu indera pembau (idung) dan indera pengecap (lidah). 
  2. Mekanoreseptor adalah alat indera yang merespon terhadap rangsangan gaya berat, tegangan suara dan tekanan yakni indera peraba (kulit) dan indera pendengaran (kuping). 
  3. Photoreseptor / Fotoreseptor adalah alat indera yang merespon terhadap rangsangan cahaya seperti indera penglihatan atau mata.

Kelainan pada Sistem Indera

1.     Pada Indera Penglihat
  • Astigmatis (mata silindris) : Kelainan pada mata yang menyebabkan penglihatan menjadi kabur. Hal ini terjadi karena penderita tidak mampu melihat garis-garis horizontal dan vertikal secara bersama-sama. Mata tidak mampu memfokuskan pandangan karena kornea mata tidak berbentuk bola. Kelainan ini dapat diatasi dengan memakai kacamata silindris.
  • Buta warna : Buta warna adalah ketidakmampuan mata untuk melihat warna-warna tertentu. Misalnya, buta warna merah tidak dapat melihat warna merah.
  • Glukoma : Kelainan ini ditandai dengan peningkatan tekanan di dalam bola mata. Tekanan terjadi karena adanya sumbatan pada saluran di dalam bola mata dan pembentukan cairan di bola mata yang berlebihan. Kelainan yang tidak segera diatasi dapat menyebabkan kebutaan. Kelainan ini dapat diatasi dengan obat-obatan yang harus diminum seumur hidup atau dengan tindakan pembedahan.
  • Hipermiopi (rabun dekat) : Ketidakmampuan mata melihat benda dekat dengan jelas. Kelainan ini terjadi karena lensa mata terlalu pipih atau garis tengah mata pendek, sehingga bayangan yang dibentuk oleh lensa jatuh di belakang retina. Kelainan mata ini dapat diatasi dengan menggunakan kacamata berlensa positif (lensa cembung).
  • Juling : Disebabkan adanya ketidak serasian kerja otot penggerak bola mata kanan dan kiri. Kelainan ini dapat diatasi dengan tindakan operasi pada otot mata.
  • Katarak : Mengeruhnya lensa mata, karena kekurangan vitamin B atau juga faktor usia. Katarak dapat diatasi dengan tindakan operasi.
  • Keratomalasi : Ditandai dengan kornea mata yang keruh. Penyebabnya adalah kekurangan vitamin A yang sangat parah. Jadi, penyakit ini merupakan tingkat lanjut rabun senja. Kekurangan vitamin A menimbulkan penebalan selaput lendir mata. Akibatnya, permukaan mata yang biasanya basah menjadi kering dan kasar (xeroftalmia/xerosis). Jika tidak segera diatasi. akan menimbulkan kebutaan.
  • Miopi (rabun jauh) : Ketidakmampuan mata untuk melihat benda yang jauh dengan jelas. Kelainan ini terjadi karena lensa mata terlalu cembung atau garis tengah mata panjang, sehingga bayangan yang dibentuk oleh lensa jatuh di depan retina. Kelainan ini dapat diatasi dengan menggunakan kacamata berlensa negatif (lensa cekung).
  • Presbiopi (mata tua) : ketidakmampuan mata untuk melihat benda yang dekat dan jauh dengan jelas. Kelainan ini terjadi karena tidak elastisnya lensa mata untuk berakomodasi. Kelaianan ini dapat diatasi dengan kacamata berlensa ganda, yaitu negatif dan positif.
  • Rabun senja : kelainan mata barupa ketidakmampuan mata untuk melihat pada senja hari. Rabun senja disebabkan oleh kekurangan vitamin A. 

2. Pada Indera Pendengar
  • Otosklerosis : Penyakit ini merupakan tuli konduksr yang menahun karena tulang sanggurdi kaku dan tidak dapat bergerak secara leluasa.
  • Radang telinga / Otitis : Radang telinga dapat terjadi di bagian luar maupun tengah. Radang telinga bagian luar terjadi karena bakteri. jamur. atau virus yang masuk melalui berbagai cara, misalnya masuk bersama air ketika berenang. Radang telinga tengah (otitis media) dapat terjadi karena bakteri atau virus. misalnya virus influenzea yang masuk dari rongga mulut melalui saluran Eustachius.
  • Tuli : Merupakan gangguan pendengaran karena kerusakan saraf pendengaran, infeksi bakteri, atau jamur. Tuli merupakan gejala utama radang telinga (otitis). Gendang telinga terlihat utuh, namun tertarik/retraksi,suram, kuning kemerahan, atau keabu-abuan.

3. Pada Indera Pencium
  • Anosmia : Akibat kelainan Anosmia ini indera pembau kita dapat kehilangan sensitivitas terhadap rasa bau, sehingga kita tidak bisa mencium bau dari sesuatu benda atau zat tertentu. Anosmia dapat disebabkan oleh : Penyumbatan rongga hidung akibat pilek, Terdapat polip atau tumor di rongga hidung, Sel rambut rusak akibat infeksi kronis, dan Gangguan pada saraf olfaktori.

4. Pada Indera Pengecap
  • Sariawan : mengakibatkan lidah memerah dan tampak luka. Penyakit ini cukup mengganggu karena menimbulkan rasa sakit pada saat kita menggerakkan lidah untu mengunyah dan berbicara. Penyakit ini dapat dicegah dan disembuhkan dengan mengonsumsi vitamin C.

5. Pada Indera Peraba
  • Dermatitis atopic atau eksema, : Peradangan di awal masa kanak-kanak. Eksema dapat menyebabkan gatal yang tidak tertahankan, peradangan, dan gangguan tidur. Eksema merupakan penyakit tidak menular.
  • Jerawat : Mudah menyerang kulit wajah, leher, punggung, dan dada. Jerawat dapat timbul akibat ketidakseimbangan hormon dan kulit yang kotor.
  • Kadas : Tampak sebagai bulatan putih bersisik. Kadas menimbulkan rasa gatal yang ditimbulkan oleh jamur.
  • Panu : Disebabkan oleh jamur yang hinggap di kulit. Panu timbul karena penderita tidak menjaga kebersihan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar