07 Januari 2012

Klasifikasi Ilmiah

Pengertian Klasifikasi Ilmiah
Beragamnya makhluk hidup yang ada di muka bumi ini mendorong diperlukannya suatu cara pengelompokan agar makhluk hidup mudah dipelajari.  Para ilmuan biologi telah mengembangkan suatu sistem yang dapat memudahkan kita mempelajari dan mengenali makhluk hidup. Sistem tersebut adalah sistem klasifikasi. Pada sistem klasifikasi, makhluk hidup dikelompokan secara sistematis dan bertahap. Cabang ilmu biologi yang mengkaji pengelompokan makhluk hidup disebut Taksonomi.
Sistem klasifikasi mahkluk hidup dipelopori oleh Carolus Linnaeus pada abad ke-18. Prinsip klasifikasi yang digunakan oleh Linnaeus adalah pengelompokan makhluk hidup berdasarkan persamaan ciri dan pemberian nama dengan Sistem tata nama ganda (Binomial nomenclature).
Carolus Linnaeus

Tingkatan Takson
Kegiatan pengelompokan makhluk hidup menghasilkan kelompok-kelompok takson (jamak = taksa). Banyak dan sedikitnya persamaan dan perbedaan ciri antar anggota suatu kelompok makhluk hidup akan menentukan jenjang takson dan juga menunjukan jenjang kekerabatannya.
Kelompok makhluk hidup yang anggotanya memiliki sedikit persamaan berada pada jenjang takson yang lebih tinggi dibanding kelompok makhluk hidup yang anggotanya memiliki banyak persamaan. Semakin sedikit persamaan ciri antar makhluk hidup, semakin jauh kekerabatannya.
Urutan jenjang takson mulai dari yang tertinggi ke terendah adalah sebagai berikut:
  1. Kingdom (kerajaan)
  2. Phylum (filum) / Divisio (divisi)
  3. Classis (kelas)
  4. Ordo (bangsa)
  5. Familia (suku)
  6. Genus (marga)
  7. Species (jenis)
Contoh klasifikasi macan tutul dari dari tingkat takson tertinggi ke terendah adalah sebagai berikut:
  1. Kingdom : Animalia
  2. Phylum : Chordata
  3. Classis : Mammalia
  4. Ordo : Carnivora
  5. Familia : Felidae
  6. Genus : Panthera
  7. Species : Panthera pardus

Sistem Tata Nama Ganda (Binomial Nomenclature)
Untuk memudahkan komunikasi antar ilmuan biologi mengenai jenis makhluk hidup, Carolus Linnaeus pada tahun 1735 menciptakan sistem tata nama. Bahasa yang digunakan oleh Linnaeus dalam sistem tata nama adalah bahasa latin. Bahasa latin dipilih karena pada masa Linnaeus bahasa tersebut adalah bahasa ilmiah yang universal. 
Linnaeus memberikan sistem tata nama berupa nama ilmiah pada setiap spesies makhluk hidup. Sistem tata nama terdiri dari dua bagian, yaitu bagian pertama sebagai nama genus dan bagian kedua sebagai penunjuk spesies.
Sistem penamaan yang terdiri dari dua bagian ini disebut sistem tata nama ganda atau binomial nomenclature (latin, bi = dua, nomen = nama). Sistem tata nama ganda juga memasukan singkatan nama orang yang pertama kali mengidentifikasi suatu spesies makhluk hidup.
Ketentuan penamaan tersebut adalah sebagai berikut:
  1. Nama spesies terdiri dari dua kata dalam bahasa Latin atau kata yang dilatinkan.
  2. Nama pertama menunjukan nama genus, oleh sebab itu huruf pertama menggunakan huruf kapital.
  3. Nama kedua merupakan nama spesifik atau penunjuk jenis yang huruf awalnya ditulis dengan huruf kecil.
  4. Nama spesies dicetak miring atau digaris bawah, atau dicetak dengan huruf yang berbeda dengan teks yang lain. Tujuan dicetak miring atau diberi garis bawah adalah agar nama-nama itu mudah terbaca di dalam teks.
  5. Nama ilmiah yang lengkap perlu mencantumkan nama penulis (nama keluarga atau singkatannya). Penulis adalah orang yang pertama kali memberi nama, mendeskripsikan, dan menerbitkan publikasi tentang organisme tersebut
Contoh penggunaan nama ilmiah dengan sistem tata nama ganda untuk pisang adalah Musa paradisiaca L. Nama genus pisang adalah Musa, sedangkan penunjuk spesiesnya paradisiaca. Pengidentifikasian pisang pertama kali dilakukan oleh Linnaeus (disingkat L.).

Proses Klasifikasi Ilmiah
Para biologiawan masih menggunakan buku Linnaeus yang berjudul Systema Naturae (sistem Alam) yang diterbitkan tahun 1758 sebagai dasar untuk klasifikasi ilmiah. Ada tiga tahap yang harus dilakukan untuk mengklasifikasikan makhluk hidup.
  • Pencandraan (identifikasi) 
Pencandraan adalah proses mengidentifikasi atau mendeskripsi ciri-ciri suatu makhluk hidup yang akan diklasifikasi.
  • Pengelompokan
Setelah dilakukan pencandraan, makhluk hidup kemudian dikelompokkan dengan makhluk hidup lain yang memiliki ciri-ciri serupa. Makhluk hidup yang memiliki ciri serupa dikelompokkan dalam unit-unit yang disebut takson.
  • Pemberian nama takson
Selanjutnya kelompok-kelompok ini diberi nama untuk memudahkan kita dalam mengenal ciri-ciri suatu kelompok makhluk hidup.

Identifikasi atau Determinasi
Jika kita memiliki suatu jenis tumbuhan atau hewan yang akan diidentifikasi, hal pertama yang harus dilakukan adalah mempelajari tumbuhan atau hewan itu sebaik-baiknya. Semua sifat morfologi (misalnya bentuk dan ukuran) perlu dianalisa sehingga ciri-ciri tumbuhan atau hewan yang akan diidentifikasi tersebut dikuasai sepenuhnya.
Langkah berikutnya adalah mencoba membandingkan atau menyamakan ciri-ciri tumbuhan atau hewan yang dimaksud dengan ciri-ciri tumbuhan atau hewan lain yang sudah dikenal identitasnya. Misalnya dengan menggunakan salah satu cara yang diuraikan di bawah ini.
  • Ingatan
Determinasi dilakukan berdasarkan pengetahuan atau ingatan kita tentang tumbuhan atau hewan yang dikenal sebelumnya.
  • Bantuan orang lain
Determinasi tumbuhan atau hewan dapat dilakukan dengan meminta bantuan ahli-ahli botani, zoologi, atau siapa saja yang dapat membantu.
  • Spesimen acuan
Identifikasi suatu jenis tumbuhan atau hewan dilakukan dengan membandingkan secara langsung dengan spesimen acuan yang biasanya telah diberi etiket bertuliskan namanya. Spesimen tadi dapat berupa koleksi kering atau koleksi basah.
  • Pustaka
Cara lain untuk melakukan determinasi adalah dengan membandingkan atau mencocokan ciri-ciri tumbuhan atau hewan yang akan diidentifikasi dengan deskripsi serta gambar-gambar yang ada dalam pustaka. Misalnya dengan menggunakan kunci identifikasi dan determinasi. 
  • Komputer
Perkembangan teknologi di bidang komputer dan biometrika berhasil menciptakan suatu program komputer yang akan menyimpan, mengolah, dan memberikan kembali keterangan tentang tumbuhan atau hewan. Oleh karena itu, determinasi hewan atau tumbuhan dapat dilaksanakan dengan bentuk komputer.
  • Kunci Identifikasi
Penggunaan kunci identifikasi merupakan cara yang paling sering digunakan untuk mengidentifikasi tumbuhan maupun hewan, terutama bagi mereka yang memiliki spesimen acuan. Identifikasi dengan bantuan kunci identifikasi dilakukan secara bertahap, sebab setiap kunci identifikasi memiliki batas kemampuan yang berbeda. Ada kunci yang mengidentifikasi sampai familia, genus atau spesies.
Format pada kunci identifikasi biasanya dikotom atau disebut kunci dikotom. Kunci dikotom merupakan kunci identifikasi dengan menelusuri jalur yang ditetapkan oleh keputusan beraturan dengan setiap pilihannya adalah biner (karena hanya ada dua alternatif).
Kunci dikotom terdiri dari sederet bait atau kuplet yang diberi nomor dan setiap bait terdiri dari dua baris yang disebut penuntun. Penuntun berisi ciri-ciri yang bertentangan satu dengan yang lainnya dan ditandai dengan huruf. Ciri-ciri tersebut disusun sedemikian rupa sehingga selangkah demi selangkah pemakai kunci identifikasi memilih satu diantara dua atau beberapa sifat yang bertentangan, dan seterusnya. Akhirnya akan diperoleh suatu jawaban berupa identitas tumbuhan atau hewan yang diinginkan.
Contoh kunci identifikasi sebagai berikut:
1.   a. Daun tunggal ...........................................   2
b. Daun majemuk ......................................     4
2.   a. Bangun daun garis ................................     rumput
b. Bangun daun lebar ...............................      3
3.   a. Tepi daun bergerigi ..............................      kembang sepatu
b. Tepi daun bercangap ............................      kentang
4.   a. Daun dengan tujuh helai anak daun .....      kapuk
b. Daun dengan lebih dari tujuh helai daun .....          5
5.   a. Anak daun duduk pada ibu tangkai daun ....          mahoni
b. Anak daun duduk pada cabang tingkat satu dari ibu tangkai daun ..................................................................      kembang merak

Manfaat Klasifikasi Ilmiah
  1. Mengetahui keanekaragaman hayati
  2. Mengenal berbagai spesies makhluk hidup meliputi ciri-ciri makhluk hidup, hubungan kekerabatan diantara makhluk hidup, dan interaksi antara makhluk hidup dengan lingkungannya.
  3. Penemuan prekursor biokimia obat kartison pada jenis ubi tertentu (genus Dioscorea). Penemuan ini mendorong pencarian obat sejenis dengan konsentrasi yang lebih tinggi pada spesies Dioscorea lain.
  4. Bermanfaat jika kita dihadapkan pada pilihan untuk menentukan habitat yang harus dipertahankan guna melindungi spesies langka yang jumlahnya sangat sedikit. Caranya adalah dengan melakukan studi untuk mencari spesies yang masih berkerabat dekat dengan spesies langka tersebut. Jika kerabatnya lebih dekat lebih mudah dipelajari, dapat dibuat kesimpulan berdasarkan kebutuhan spesies kerabatnya terhadap habitat tertentu.
  5. Dengan mengetahui ciri-ciri unggul dari berbagai spesies makhluk hidup, kita dapat memanfaatkannya secara langsung antara lain untuk bahan sandang, pangan, papan dan obat-obatan.
  6. Pengenalan terhadap adanya interaksi antara makhluk hidup dengan lingkungannya membantu kita turut menjaga keseimbangan ekosistem. Keseimbangan ekosistem memberikan manfaat tidak langsung bagi manusia, misalnya mencegah bencana alam seperti tanah longsor dan banjir, serta hama penyakit tanaman. 

Sistem Klasifikasi Ilmiah
Pengetahuan dan interpretasi para ilmuan biologi serta perkembangan teknologi penelitian makhluk hidup menimbulkan sistem klasifikasi yang beragam dari waktu ke waktu. Beberapa sistem klasifikasi yang sudah dikembangkn para ilmuan biologi diuraikan berikut ini.
  • Sistem Dua Kingdom
Sistem dua kingdom adalah sistem klasifikasi yang pertama. Dalam sistem ini makhluk hidup dikelompokan menjadi dua kelompok besar, yaitu:
  1. Plantae (kelompok tumbuhan)
  2. Animalia (kelompok hewan)
  • Sistem Tiga Kingdom
Sistem tiga kingdom muncul setelah adanya mikroskop. Penggunaan mikroskop mengungkapakan adanya makhluk hidup renik (mkroorganisme) bersel satu (uniseluler) atau bersel banyak (miltiseluler) yang memiliki ciri tumbuhan dan hewan. Makhluk hidup tersebut dikelompokan tersendiri, yaitu kingdom protista. Dengan demikian sistem tiga kingdom terdiri dari:
  1. Plantae
  2. Animalia
  3. Protista
  • Sistem Empat Kingdom
Sistem empat kingdom muncul setelah berkembangnya teknik dan alat penelitian yang lebih canggih. Salah satu alat tersebut adalah mikroskop elektron. Mikroskop ini dapat mengungkapkan struktur ulta mikroskopik sel makhluk hidup, misalnya ada tidaknya membran inti. Makhluk hidup yang tidak memiliki membaran inti disebut prokariot, sedangkan makhluk hidup yang memiliki membran inti disebut eukariot. Makhluk hidup prokariot dikelompokan dalam kingdom monera. Oleh karena itu, sistem tiga kingdom berkembang menjadi sistem empat kingdom yang terdiri dari:
  1. Plantae
  2. Animalia
  3. Protista
  4. Monera 
  • Sistem Lima Kingdom
Sistem lima kingdom dikembangkan oleh R.H. Whittaker pada tahun 1969. Sistem ini didukung oleh banyak ilmuan biologi. Pada sistem lima kingdom, jamur dipisahkan dari kingdom plantae berdasarkan ciri struktur sel dan cara memperoleh makananya. Jamur dikelompokan dalam kingdom fungi. Oleh karena itu, sistem lima kingdom makhluk hidup terdiri dari:
  1. Plantae
  2. Animalia
  3. Protista
  4. Monera
  5. Fungi
  • Sistem Enam Kingdom
Selama bertahun-tahun para biologiwan meneliti kelompok makhluk hidup yang disebut archaebacteria. Archaebacteria memiliki ciri-ciri yang unik, berbeda dengan bakteri dalam kingdom monera. Pada tahun 1970an, seorang mikrobiologis bernama Carl Woese dan peneliti lain dari University of Illinois menemukan bahwa archaebacteria berbeda dengan eubacteria (bakteri). Archaebacteria lebih mendekati makhluk hidup eukariot. Selanjutnya pada tahun 1996 para biologiwan sepakat memisahkan eubacteria dan archaebacteria. Archaebacteria merupakan nenek moyang makhluk hidup eukariot uniseluler.
Dengan adanya archaebacteria, memunculkan klasifikasi enam kingdom, yaitu:
  • Sistem Klasifikasi Domain
Belakangan, sistem Kingdom sempat dianggap basi, sehingga dibentuk sistem baru yang menambah urutan dan memiliki lebih sedikit jenis, yaitu Domain.
Ada tiga jenis Domain, yaitu:
  1. Archaea (dari Archaebacteria)
  2. Bacteria (dari Eubacteria)
  3. Eukarya (termasuk fungi, hewan, tumbuhan, dan protista)
  • Sistem Enam Kingdom (Thomas Caviler-Smith)
Pada tahun 2004, seorang ilmuwan, Thomas Cavalier-Smith mengklasifikasikan makhluk hidup menjadi 6 Kingdom juga, namun dengan memisahkan Eukaryota dari Protista yang bersifat autotrof menjadi Kingdom baru, yaitu Chromista.
Enam Kingdom menurut Klasifikasi Cavalier-Smith, yaitu:
  1. Bacteria
  2. Protozoa
  3. Chromista
  4. Fungi
  5. Plantae
  6. Animalia
Linnaeus, 1735
(2 Kingdom)
Haeckel, 1866
(3 Kingdom)
Chatton, 1925
(2 Empire)
Copeland, 1938
(4 Kingdom)
Whittaker, 1969
(5 Kingdom)
Woese et al, 1977
(6 Kingdom)
Woese et al, 1990
(3 Domain)
Cavalier-Smith, 2004
(6 Kingdom)
(Belum ada klasifikasi mikroba)

Prokaryota
Monera
Monera
Eubacteria
Bacteria
Bacteria (Gabungan Archaebacteria dan Eubacteria)

Protista
Prokaryota (idem/klasifikasi yg sama dgn yang di atas)
Monera (idem)
Monera (idem)
Archaebacteria

Archaea
Bacteria (idem)


-- Eukaryota mulai dari sini --
Protoctista
Protista
Protista
-- Eukarya mulai dari sini --
Protozoa




Protista (idem)
Protista (idem)

Chromista
Vegetabilia
Plantae
Eukaryota

Fungi
Fungi
Eukarya
Fungi
Vegetabilia (idem)
Plantae (idem)

Plantae
Plantae
Plantae

Plantae
Animalia
Animalia

Animalia
Animalia
Animalia

Animalia


[Sumber: Biologi SMA dan MA untuk Kelas X Esis; id.wikipedia.org; kamuspengetahuan.blogspot.com]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar