07 Februari 2012

Protozoa

Protozoa (Yunani, Protos : pertama; Zoon : hewan). Disebut protista yang menyerupai hewan karena uniseluler, heterotrofik, dan merupakan cikal bakal hewan yang lebih kompleks. Seluruh kegiatan hidupnya dilakukan oleh sel itu sendiri melalui organel-organel yang secara fungsi analog dengan sistem organ pada hewan-hewan bersel banyak (metazoa).

Ciri Tubuh
Protozoa berukuran mikroskopis, yaitu sekitar 10 – 200 µm. Bentuk protozoa sangat bervariasi ada yang tetap (asimetris, bilateral simetris, radial simetris dan spiral) dan ada yang berubah-ubah. Umumnya dapat bergerak aktif, karena memiliki alat gerak berupa bulu cambuk (flagellum), bulu getar (cilia), kaki semu (pseudopodia), namun ada juga yang tidak memiliki alat gerak.

Struktur Tubuh
Sel protozoa umumnya terdiri dari membran sel, sitoplasma, vakuola makanan, vakuola kontraktil, (vakuola berdenyut), dan inti sel.
Membran sel berfungsi sebagai pelindung serta pengatur pertukaran makanan dan gas. Vakuola berfungsi untuk mencerna makanan. Vakuola makanan terbentuk dari proses makan sel dengan cara menelan oleh setiap bagian membran sel atau melalui sitostoma (mulut sel). Zat-zat makanan hasil cernaan dalam vakuola makanan masuk ke dalam sitoplasma secara difusi. Sedangkan sisa makanan dikeluarkan dari vakuola ke luar sel melalui membran plasma. Vakuola kontraktil berfungsi untuk mengeluarkan sisa makanan berbentuk cair ke luar sel melalui membran sel serta mengatur kadar air dalam sel. Vakuola kontraktil merupakan vakuola yang selalu mengembang dan mengempis. Inti sel berfungsi mengatur aktivitas sel.

Cara hidup
Protozoa hidup secara heterotrof, dengan memangsa bakteri, protista lain, dan sampah organisme. Cara makannya dengan fagositosis. Cara mendapatkan makanan dibedakan menjadi : holozoik, saprofit, saprozoik. Cara hidupnya bebas, komensalisme, mutualisme, parasit.

Habitat
Protozoa hidup soliter atau berkoloni pada habitat yang beragam. Sebagian besar protozoa hidup bebas di laut atau di air tawar, misalnya di selokan, kolam atau sungai. Jenis lainnya ada yang hidup di tanah. Beberapa jenis protozoa hidup dalam tubuh hewan atau manusia dengan cara bersimbiosis.

Reproduksi
Protozoa sebagian besar melakukan reproduksi secara aseksual dengan pembelahan biner. Sebagian lagi Protozoa melakukan reproduksi seksual dengan penyatuan sel generatif (sel gamet) atau dengan penyatuan inti sel vegetatif. Reproduksi seksual dengan penyatuan inti vegetatif disebut konjugasi.
Dalam siklus hidupnya, beberapa protozoa menghasilkan sel tidak aktif yang disebut kista. Kista diselubungi oleh kapsul polisakaridayang melindungi protozoa dari lingkungan yang tidak menguntungkan, misalnya kekeringan. Jika kondisi lingkungan membaik, misalnya tersedia makanan dan air maka dinding kista akan pecah dan protozoa keluar untuk memulai hidupnya kembali.

Klasifikasi
Berdasarkan alat geraknya protozoa dibedakan menjadi:
1.      Flagellata / Mastigophora
Flagellata (Latin, flagel : cambuk) atau Mastigophora (Yunani, mastig: cambuk; phora: gerakan). Flagellata bergerak dengan flagelum (rambut cambuk). Sebagian besar Flagellata memiliki dua flagelum. Letak flagelum ada yang di bagian belakang sel (posterior) sehingga saat bergerak seperti mendorong sel, ada yang di bagian depan sel (anterior) sehingga saat bergerak seperti menarik sel.
Flagellata mempunyai bentuk yang tetap. Berkembangbiak secara aseksual dengan pembelahan biner membujur dan seksual dengan konjugasi. Umumnya hidup di dalam air, beberapa hidup parasit pada hewan dan manusia.
Contohnya:
a.       Leishmania donovani, penyebab penyakit kalaazar yang merusak sel darah manusia.
b.      Leishmania tropika, penyebab penyakit kulit.
c.       Tripanosoma brucei, penyebab penyakit nagano pada ternak.
d.      Tripanosoma cruci, penyebab penyakit cagas (anemia anak).
e.       Tripanosoma evansi, penyebab sakit surrah pada hewan ternak, misalnya sapi, kambing, dan kuda, vectornya lalat tabanidae.
f.       Tripanosoma gabiense, penyebab penyakit tidur, vektornya lalat tsetse (G, palpalis).
g.      Tripanosoma levisi, parasit pada darah tikus.
h.      Tripanosoma rhodosiense, penyebab penyakit tidur, vektor lalat tsetse (G, palpalis).
i.        Tripanosoma vaginalis, penyebab keputihan pada vagina.
Leishmania

2.      Ciliata / Ciliophora / Infusuria
Ciliata (Latin, cilia : rambut kecil) atau Ciliophora (Yunani, phora : gerakan) atau Infusuria (Latin, Infus : menuang). Merupakan kelas terbesar dari protozoa. Cilliata bergerak dengan silia (rambut getar). Silia berfungsi untuk bergerak, menangkap makanan dan untuk menerima rangsangan dari lingkungan.
Cilliata memiliki dua macam inti yaitu makronukleus dan mikronukleus. Makronukleus memiliki fungsi vegetatif, yaitu untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan. Mikronukleus memiliki fungsi reproduktif, yaitu pada konjugasi. Ciliata juga memiliki trikokis yang fungsinya untuk pertahanan diri dari musuh.
Ciliata hidup bebas di lingkungan berair baik air tawar maupun air laut, dan di dalam tubuh hewan lain secara simbiosis maupun parasit.
Ciliata bereproduksi secara aseksual dan seksual. Reproduksi aseksual yaitu dengan pembelahan biner membujur (transversal). Reproduksi seksual yaitu dengan konjugasi.
Contoh: Paramecium caudatum, Nyctoterus ovalis, Stylonichia, Balantidium coli, Stentor, Vorticella, Didium
 Paramecium

3.      Rhizopoda / Sarcodina
Rhizopoda (Yunani, rhizo : akar; podos : kaki) atau Sarcodina (Yunani, sarco : daging). Rhizopoda bergerak dengan pseudopodia (kaki semu/kaki akar: ada dua macam yaitu lobodia dan filopodia), yang berarti setiap kali ia akan bergerak harus membentuk kaki semu sebelum dapat bergerak dan pembentukan kaki ini dinamakan fase gel. Pseudopodia berfungsi sebagai alat gerak dan memangsa makanan.
Bentuk sel Rhizopoda berubah-ubah saat diam dan bergerak. Sitoplasma terdiri dari ektoplasma dan endoplasma. Ektoplasma adalah plasma sel bagian luar yang berbatasan dengan membran plasma. Endoplasma adalah plasma sel pada bagian dalam sel.
Rhizopoda bereproduksi secara aseksual dengan pembelahan biner. Pada kondisi tidak menguntungkan, misalnya kekeringan, Rhizopoda tertentu dapat beradaptasi untuk mempertahankan hidupnya dengan membentuk kista.
Rhizopoda umumnya hidup bebas di tanah yang lembab dan di lingkungan berair, baik di darat maupun di laut.
Contoh: Amoeba sp, Entamoeba histolytica, Entamoeba coli, Entamoeba gingivalis, Arcella sp, Difflugia, Foraminifera, Radiolaria
Amoeba sp

4.      Sporozoa
Sporozoa (Yunani, spore: biji, zoon: hewan) adalah hewan berspora, tidak mempunyai alat gerak, bergerak dengan mengubah kedudukan tubuhnya. Hampir semua spesies ini bersifat parasit.
Reproduksi dengan dua cara yaitu: aseksual (schizogojni / pembelahan diri berlangsung dalam tubuh inang dan sporogoni / membuat spora yang berlangsung dalam tubuh inang perantara) dan seksual (melalui peleburan yang terjadi pada tubuh nyamuk).
Daur hidup Plasmodium dengan vektor nyamuk Anopheles betina, mengalami 2 fase, (Penemu daur hidup Plasmodium yaitu Laveran dan Grassi), yaitu:
a.       Fase generatif, terjadi dalam tubuh nyamuk malaria
Skema: fertilisasi → zigot → ookinet → oosista → sporozoid.
b.      Fase vegetatif, terjadi dalam tubuh manusia ada dua tempat yaitu:
1)      Dalam hati (disebut eksoeritrositik)
Skema: sporozoid → skizon erytozoik → merozoit eryptozoik.
2)      Dalam darah (eritrositik)
Skema: tropozoit → skizon muda → skizon matang → merozoit → makrogamet/mikrogamet.
Contoh sporozoa:
a.       Plasmodium vivax, penyebab penyakit malaria tertiana, masa sporulasi (2x24 jam) atau setiap 48 jam.
b.      Plasmodium malariae, penyebab penyakit malaria quartana, masa sporulasi 72 jam.
c.       Plasmodium falcifarum, penyebab penyakit malaria tropika, masa sporulasi (1-2x24 jam).
d.      Plasmodium ovale, penyebab penyakit limpa, masa sporulasi (2x24 jam), tidak terdapat di Indonesia.
e.       Toxoplasma gondii, penyebab penyakit toksoplasmosis.
 Plasmodium falcifarum

Peranan Protozoa:
1.      Protozoa yang menguntungkan:
a.       Sebagai zooplankton.
b.      Entamoeba coli yang hidup di usus sapi dapat membantu proses pencernaannya.
c.       Radiolaria, kerangkanya jika mengendap di dasar laur menjadi tanah radiolaria yang dapat digunakan sebagai bahan penggosok.
d.      Foraminifera, cangkang atau kerangkanya merupakan penunjuk dalam pencarian sumber daya minyak, gas alam, dan mineral.
2.      Protozoa yang merugikan:
a.       Balantidium coli, penyebab diare.
b.      Entamoeba histolytica, penyebab penyakit disentri.
c.       Leishmania donovani, penyebab penyakit kalaazar yang merusak sel darah manusia.
d.      Leishmania tropika, penyebab penyakit kulit.
e.       Plasmodium, penyebab penyakit malaria
f.       Toxoplasma gondii, penyebab toksoplasmosis.
g.      Trichomonas vaginalis, parasit pada alat kelamin wanita dan saluran kelamin laki-laki.
h.      Tripanosoma brucei, penyebab penyakit nagano pada ternak.
i.        Tripanosoma cruci, penyebab penyakit cagas (anemia anak).
j.        Tripanosoma evansi, penyebab sakit surrah pada hewan ternak, misalnya sapi, kambing, dan kuda, vectornya lalat tabanidae.
k.      Tripanosoma gabiense, penyebab penyakit tidur, vektornya lalat tsetse (G, palpalis).
l.        Tripanosoma levisi, parasit pada darah tikus.
m.    Tripanosoma rhodosiense, penyebab penyakit tidur, vektor lalat tsetse (G, palpalis).
n.      Tripanosoma vaginalis, penyebab keputihan pada vagina.



[Sumber: Biologi SMA dan MA untuk Kelas X Esis; materi-pelajaran.blogspot.com; diajengasnani.blogspot.com]

1 komentar: