12 Maret 2012

Bryophyta / Lumut

Bryophyta berasal dari bahasa Yunani, kata bryum yang berarti lumut dan phyta artinya adalah tumbuhan. Lumut artinya tumbuhan yang pendek (dekat dengan dasar mediumnya).

Ciri Tubuh
Lumut berukuran makroskopis dengan tinggi rata-rata 1-2 cm. Lumut tertinggi berukuran sekitar 40 cm. Dalam siklus hidupnya, lumut mengalami pergantian generasi, yaitu gametofit dan sporofit. Bentuk lumut yang sering kita lihat sebenarnya adalah lumut gametofit. Gametofit adalah lumut yang menghasilkan sel kelamin (gamet). Sporofit adalah lumut yang menghasilkan spora.
Gametofit ada yang berbentuk talus (lembaran) dan ada yang sudah memiliki bagian tubuh mirip dengan akar, batang dan daun. Oleh karena itu, lumut disebut sebagai peralihan antara tumbuhan bertalus (Thallophyta) dan tumbuhan berkormus (Cormophyta) yang memiliki akar, batang dan daun sejati.
Sporofit menumpang pada tubuh gametofit. Bentuk sporofit ada yang seperti terompet memanjang atau aeperti kapsul bertangkai panjang.
Pada lumut, akar yang sebenarnya tidak ada, lumut melekat pada tempat tumbuhnya dan menyerap garam-garam mineral dengan rizoid (akar semu menyerupai benang).
Lumut tidak memiliki pembuluh pengangkut. Air masuk ke dalam tubuh secara imbibisi, lalu didistribusi ke seluruh jaringan tubuh dengan cara difusi antar sitoplasma. Batangnya apabila dilihat secara melintang akan tampak susunan sebagai berikut selapis sel kulit, lapisan kulit dalam (korteks), silinder pusat yang terdiri sel-sel parenkimatik yang memanjang untuk mengangkut air dan garam-garam mineral.
Tumbuhan lumut berwarna hijau karena mempunyai sel-sel dengan plastida yang menghasilkan klorofil a dan b sehingga dapat berfotosintesis (bersifat autotrof). Pada lumut berbentuk talus, sel-sel yang mengandung klorofil terutama pada jaringan sebelah atas. Sebaliknya, pada lumut berbentuk tumbuhan kecil, seluruh sel pada batang dan daunnya yang tidak sejati mengandung klorofil. Sel-sel daunnya kecil, sempit, panjang, dan mengandung kloroplas yang tersusun seperti jala.
Lumut sudah memiliki dinding sel yang terdiri dari selulosa. Lumut hanya dapat tumbuh memanjang tetapi tidak membesar, karena tidak ada sel berdinding sekunder yang berfungsi sebagai jaringan penyokong.
Tumbuhan lumut (Gametofit) memiliki alat perkembangbiakan multiseluler yang disebut Gametangium (jamak: Gametangia), terdiri dari:
1.      Alat kelamin jantan disebut Anteridium (jamak: Anteridia) yang menghasilkan Spermatozoid
2.      Alat kelamin betina disebut Arkegonium (jamak: Arkegonia) yang menghasilkan Ovum
Jika kedua gametangia terdapat dalam satu individu disebut berumah satu (Monoseus). Jika terpisah pada dua individu disebut berumah dua (Dioseus). Gametofit yang hanya memiliki anteridium disebut gametofit jantan, dan gametofit yang hanya memiliki arkegonium disebut gametofit betina.
Gamet dihasilkan dari proses meiosis (pembelahan reduksi), yaitu pembelahan dua kali pada satu inti gamet menjadi empat inti gamet, masing-masing gamet mengandung kromosom yang tidak berpasangan (haploid = n).
Gerakan spermatozoid ke arah ovum merupakan gerak kemotaksis, karena adanya rangsangan zat kimia berupa lendir yang dihasilkan oleh sel telur.
Pada lumut gametofit terdapat lumut sporofit (sporogonium) yang terdiri dari sel-sel dengan kromosom yang berpasangan (diploid = 2n). Lumut sporofit selalu menumpang pada lumut gametofit untuk memperoleh air dan mineral. Lumut sporofit ada yang uniseluler dan ada yang meltiseluler.
Pada tumbuhan lumut (sporofit) terdapat Sporogonium (badan penghasil spora), dengan bagian-bagian:
1.      Vaginula (kaki)
2.      Seta (tangkai)
3.      Apofisis (ujung seta yang melebar)
4.      Sporangium (kotak spora) : Kaliptra (tudung) dan Kolumela (jaringan dalam kotakspora yang tidak ikut membentuk spora). Spora lumut bersifat haploid.
Jika sporofit tidak memproduksi spora, gametofit akan membentuk anteridium dan arkegonium untuk melakukan reproduksi seksual.

Cara Hidup dan Habitat
Lumut adalah organisme fotoautotrof yang dapat mensintesis makanannya sendiri. Air dan mineral yang dibutuhkan untuk fotosintesis diperoleh dengan cara difusi oleh bagian-bagian tubuhnya. Hal ini hanya dilakukan oleh oleh lumut gametofit. Cara penyerapan dengan difusi menyebabkan lumut cocok pada habitat yang lembap dan teduh, misalnya tanah, bebatuan, dan pohon.
Lumut merupakan tumbuhan darat sejati, walaupun masih menyukai tempat yang lembab dan basah. Lumut yang hidup di air jarang kita jumpai, kecuali Fontinalis antipyretica dan Sphagnum sp (lumut gambut) yang hidup di rawa.
Lumut tumbuh di berbagai tempat, yang hidup pada daun-daun disebut sebagai epifil. Jika pada hutan banyak pohon dijumpai epifil maka hutan demikian disebut hutan lumut.
Jaringan tumbuhan yang mati menjadi sumber hara bagi tumbuhan lumut lain dan tumbuhan yang lainnya.

Reproduksi
Reproduksi lumut bergantian antara fase seksual dan aseksual melalui pergiliran keturunan atau metagenesis. Metagenesis adalah pergiliran antara generasi gametofit (n) dengan generasi sporofit (2n). Pada lumut, gametofit adalah generasi yang dominan dalam daur hidupnya, dan apa yang dikenal orang sebagai tumbuhan lumut merupakan tahap gametofit.
Reproduksi aseksual lumut dilakukan dengan menghasilkan spora haploid yang dibentuk dalam sporofit. Sporofit ini diploid (2n) dan berusia pendek (3-6 bulan untuk mencapai tahap kemasakan). Sporofit akan membentuk kapsula yang disebut sporogonium pada bagian ujung. Sporogonium berisi spora haploid (n) yang dibentuk melalui meiosis. Sporogonium masak akan melepaskan spora. Ketika ada spora yang jatuh pada tempat yang sesuai, maka spora tadi akan tumbuh menjadi protonema. Protonema tadi akan segera tumbuh menjadi gametofit haploid (n) / tumbuhan lumut.
Reproduksi seksual lumut dilakukan dengan membentuk gamet-gamet dalam gametofit. Ada dua macam gametangium yaitu anteridium (gametangium jantan) berbentuk bulat seperti gada. Anteridium menghasilkan spermatozoid (gamet jantan) berflagelum. Dan arkegonium (gametangium betina) bentuknya seperti botol dengan bagian lebar yang disebut perut, yang sempit disebut leher. Arkegonium menghasilkan ovum (gamet betina) yang tidak berflagelum dan berukuran lebih besar dari pada spermatozoid.
Kedua organ penghasil sel kelamin ini terletak di bagian puncak dari tumbuhan. Anteridium yang masak akan melepas spermatozoid. Spermatozoid bergerak dengan perantara air menuju arkegonium untuk membuahi ovum (pembuahan terjadi apabila kondisi lingkungan basah).
Apabila terjadi fertilisasi antara spermatozoid dengan ovum maka akan terbentuk zigot yang diploid. Zigot membelah menjadi embrio yang kemudian tumbuh menjadi sporofit diploid (2n) yang akan menghasilkan spora. Siklus akan berjalan seperti semula.

Klasifikasi
Pengelompokan berbagai spesies lumut menghasilkan tiga kelas, yaitu:

1.      Hepaticopsida / Hepaticae (Lumut hati)
Lumut hati tubuhnya berbentuk talus (lembaran). Talus lumut hati berlobus seperti lobus pada tubuh manusia. Hidup menempel di atas permukaan tanah, pohon atau tebing. Reproduksi secara vegetatif dengan membentuk spora atau gemma (kuncup). Secara generatif dengan membentuk gamet jantan dan betina.
Jenis-jenis lumut hati di antaranya :
Ordo Marchantiales
·         Famili Marchantiaceae : Marchantia geminata, Marchantia polymorpha, Reboulia hemisphaerica.
·         Famili Ricciaceae : Riccia, Ricciocarpus.
Ordo Jugermaniales : Metzgeria, Plagiochila, Frulania.

2.      Anthoceratopsida / Anthocerotae (Lumut tanduk)
Disebut sebagai lumut tanduk karena morfologi sporofitnya mirip seperti tanduk hewan. Bentuk tubuhnya seperti lumut hati yaitu berupa talus, tetapi sporofitnya berupa kapsul memanjang. Sel lumut tanduk hanya mempunyai satu kloroplas. Hidup di tepi sungai, danau, atau sepanjang selokan. Reproduksi seperti lumut hati. Contohnya Anthoceros laevis, Anthoceros fusiformis, Notothylus.

3.      Bryopsida / Musci (Lumut daun)
Disebut lumut daun karena pada jenis lumut ini telah ditemukan daun meskipun ukurannya masih kecil. Lumut daun juga disebut lumut sejati. Bentuk tubuhnya berupa tumbuhan kecil dengan bagian seperti akar (rizoid), batang dan daun. Reproduksi vegetatif dengan membentuk kuncup pada cabang-cabang batang. Kuncup akan membentuk lumut baru.
Jenis-jenis lumut daun, diantaranya:
·         Ordo Andreaeales : Andreaea rupestris dan A. petrophila.
·         Ordo Sphagnales (lumut gambut) : Sphagnum fimbriatum, S. squarrosum, S. acutifolium.
·         Ordo Bryales : Funaria, Mnium.
Andreaea rupestris


Peranan
1.      Dalam ekosistem yang masih alami, lumut merupakan tumbuhan perintis karena dapat melapukkan batuan sehingga dapat ditempati oleh tumbuhan yang lain.
2.      Lumut dapat menyerap air yang berlebih, sehingga dapat mencegah terjadinya banjir.
3.      Beberapa tumbuhan lumut dimanfaatkan sebagai ornamen tata ruang.
4.      Lumut jenis Marchantia polymorpha dapat digunakan sebagai obat radang hati atau hepatitis.
5.      Lumut Sphagnum dapat dijadikan sebagai pembalut, pengganti kapas atau sumber bahan bakar. Beberapa spesies Sphagnum dapat digunakan sebagai obat kulit dan mata. jika Spagnum ditambahkan ke tanah dapat menyerap air dan menjaga kelembaban tanah.


[Sumber: Biologi SMA dan MA untuk Kelas X Esis; id.wikipedia.org; kambing.ui.ac.id; materi-pelajaran.blogspot.com; www.sentra-edukasi.com; zaifbio.wordpress.com]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar