28 November 2012

Aliran-Aliran Pendidikan

Aliran-Aliran Klasik dalam Pendidikan
Teori – teori pendidikan yang telah dikemukakan oleh para ahli pendidikan sebelum abad 19 meliputi berbagai teori tentang segala usaha pendidikan. Teori yang menonjol pada abad atau aliran klasik ini salah satunya adalah yang berhubungan dengan perkembangan manusia/anak didik. Dalam teori ini juga terdapat banyak aliran – aliran, tetapi yang umum dan dapat dijadikan dasar untuk mengelompokkan teori – teori yang lainnya adalah meliputi:


  • Aliran Empirisme
Aliran atau teori ini dipelopori oleh John Locke seorang bangsa Inggris yang hidup pada abad 18 yang dilahirkan pada tahun 1632 dan meninggal dunia pada tahun 1704. sesuai dengan namanya aliran ini menganut paham yang berpendapat bahwa segala pengetahuan, keterampilan dan sikap manusia dalam perkembangannya ditentukan oeh pengalaman (empiri) nyata melalui alat inderanya, baik secara langsung berinteraksi dengan dunia luarnya maupun melalui proses pengolahan dalam diri dari apa yang didapatkan secara langsung. Jadi segala kecakapan dan pengetahuannya tergantung, terbentuk dan ditentukan oleh pengalaman. Sedangkan pengalaman di dapatkan dari lingkungan/dunia luar melalui indera, sehingga dapat dikatakan lingkunganlah yang membentuk perkembangan manusia atau anak didik. Lebih jelas dan tegas lagi bahwa hanya lingkunganlah yang mempengaruhi perkembnagan anak. John Locke mengatakan “Tak ada sesuatu dalam jiwa, yang sebelumnya tak ada dalam indera”. Ini berarti apa yang terjadi, apa yang mempengaruhi, apa yang membentuk perkembangan jiwa manusia adalah lingkungan melalui pintu gerbang inderannya yang berarati tidak ada yang terjadi dengan tiba – tiba tanpa melalui proses penginderaan.
Teori ini disebut juga dengan teori tabularasa, yang maksudnya bahwa anak yang baru lahir diumpamakan sebagai kertas putih bersih yang belum ditulisi apa – apa, atau bagaikan papan berlapis lilin (dahulu papan berlapis lilin ini dipakai sebagai alat komunikasi tulis – menulis). Ajaran ini menganggap bahwa ketika anak lahir tidk mempunyai bakat, pembawaan atau potensi apa – apa, masih dalam keadaan jiwa yang kosong, belum berisi sesuatu apapun. Karena masih dalam keadaan bersih, kosong, tidk ada tulisan atau gambaran apa-apa baik pada kertas atau papan berlapis lilin tersebut, sehingga mau diisi, diwarnai digambari atau dibuat apa tergantung dan ditentukan oleh lingkungan yang menguasai. Begitu juga yang terjadi pada perkembangan diri manusia menurut teori ini sangat tergantung dari lingkungannya. Sama sekali tidak ada pembawaan, bakat, potensi yang dapat berkembang sendiri, bahkan dianggap tidak ada semuanya, sehingga dapat dibawa kemana atau dibentuk apa tergantung dari lingkungan yang menguasainya. Berarti lingkunganlah yang maha kuasa dalam menentukan atau membentuk perkembangan manusia, lingkungan 100 % yang menentukan perkembangan manusia. Atau dengan kata lain kekuasaan pengembangan anak ada pada pendidikan. Pendidikan atau lingkunganlah berkuasa atas pembentukan anak. Karena itu aliran ini disebut juga aliran optimisme.
Sejalan dengan aliran ini yang tidak mengakui adanya pembawaan bakat atau potensi lainnya, adalah aliran behaviourisme. Aliran ini mengajarkan bahwa perkembangan yang diinginkan dari anak adalah tergantung dari pembiasaan pada diri anak anak menurut kebiasaan – kebiasaan yang berlaku di dalam lingkungannya. Persamaan yang lain dari aliran behaviorisme ini adalah optimisnya faktor lingkungan yang berkuasa membentuk perkembangan anak sebagaimana yang dikemukakan oleh Wsatson (tokoh  aliran behaviorime) . “Berilah saya sejumlah anak yang baik keadaan badanya dan situasi yang saya butuhkan, dan dari setiap anak entah yang mana, dapat saya jadikan dokter, ahli hukum, pedagang atau jika memang dikehendaki menjadi seorang pengemis atau seorang pencuri”. Betapa optimisnya  aliran ini semuanya tergantung dari lingkungan, atau pendidikanlah penentu segalanya.
Benarkah perkembangan ditentukan oleh lingkungannya ? jawaban pertanyaan tersebut dapat dijelaskan dari ilustrasi contoh berikut : (1) Seorang anak desa melanjutkan studinya, di kota yang sangat berbeda dengan lingkungan desanya, setelah beberapa tahun kembali lagi ke desa karena sudah lulus studinya. Secara umum kita akui anak tersebut akan berbeda sekali tingkah lakunya dengan tingkah laku yang dulu. Sehingga dapat disimpulkan berberdanya ini dipengaruhi oleh lingkungan kota dan/atau lingkungan pendidikannya, (2) Dua bayi kembar yang diasuh oleh dua keluarga yang berbeda latar belakang secara mencolok dari segi ekonomi (miskin – kaya), karakter (keras-lembut), atau yang lainnya. Tentu saja lingkungan Tersebut akan mempengaruhi dua anak kembar tersebut, baik dari segi sikap, bahasa, pendirian dan sebagainya. Benarkah lingkungan merupakan satu – satunya penentu perkembangan anak ? jawaban pertanyaan tersebut dapat ditemukan dalam contoh sebuah keluarga yang mempunyai beberapa anak dari bapak ibu yang sama, dalam keadaan serba sama, dalam ekonomi, karakteristik, dan yang lainnya sama. Atau bahkan mempunyai/terdapat anak kembar diantara saudara – saudara lainnya. Tetapi apakah anak – anak dalam keadaan dan kondisi yang serba sama tersebut mempunyai budi pekerti, watak, kepandaian, kecerdikan, atau kpribadian yang sama ? Apakah anak – anak tersebut dapat diharapkan sesuai betul dengan keinginan orang tuanya ? Apakah bisa baik semua ? Jika teori tabularasa ini benar seratus persen, tentu pertanyaan tersebut akan dijawab sama atau bisa.


  • Aliran Nativisme
Aliran ini dipelopori oleh seorang bangsa Jerman bernama Arthur Schopenhouse yang hidup pada abad 19, dilahirkan tahun 1788 dan meninggal dunia tahun 1860. teori ini merupakan kebalikan dari  teori tabularasa, yang mengajarkan bahwa anak lahir sudah memiliki pembawaan sendiri – sendiri. Pembawaan yang hanya ditentukan oleh pembawaannya sendiri – sendiri. Pembawaanlah yang maha kuasa, yang menentukan perkembangan anak. Lingkungan sama sekali tidak bisa mempengaruhi, apalagi membentuk kepribadian anak. Jika pembawaan jahaat akan menjadi jahat, jika pembawaannya baik akan menjadi baik. Walaupun bagaimana baiknya, kerasnya dan tertibnya usaha pendidikan/lingkungan. Hasil pendidikannya akan tetap sebagaimana pembawaannya. Mungkin bisa terjadi selama dalam bantuan pendidikan dan pengawasan bisa baik, tetapi begitu sudah berdiri sendiri jika memang dasarnya jelek akan kembali sebagaimana dasarnya yang jelek itu. Jadi lingkungan sama sekali tidk bisa mempengaruhi terhadap perkembangan atau hasil pendidikan anak. Perkembangan ditentukan oleh faktor pembawaannya, yang berarti juga ditentukan oleh anak itu sendiri. Karena lingkungan atau pendidikan sama sekali tidk bisa mempengaruhi perkemebangan anak, dan potensi – potensi yang dimiliki bukannya hasil pendidikan melainkan memang potensi yang sudah ada di bawa sejak lahir, sehingga tidak  ada kepercayaan nilai pendidikan dapat mempengaruhi, maka teori ini disebut juga dengan atau aliran pesimisme.
Benarkah perkembangan itu dipengaruhi oleh pembawaan ? Untuk membuktikan kebenaran itu dapat diambil beberapa contoh. Misalnya kalau orang tuanya seorang penyanyi maka anaknya akan menjadi seorang penyanyi juga. Kalau orang tuanya seorang pelukis maka anaknya akan menjadi seorang pelukis juga. Contoh lainnya, seorang anak yang tidak berpembawaan usahawan biarpun dibesarkan dalam lingkungan keluarga usahawan, maka hasilnya akan minim sekali. Bahkan akan tertekan dan merasa jika dipaksakan.
Dua contoh diatas lebih merupakan contoh pembawaan karena aktor keturunan, karena ada kemungkinan menjadi seorang penyanyi atau pelukis tersebut diwariskan oleh orang tuanya melalui sel – sel kelamin. Tetapi bisa juga tidak karena keturunan jika pembawaannya semata – mata memang karena keunikannya dengan pribadi yang lain. Sedangkan contoh yang terakhir lebih dapat merupakan contoh pemawaan karena bakat, sebab bukan karena diwariskan karena sela – sel kelamin, dari sama sekali tidak ada kemiripan dengan keluarganya. Jika orang tuanya usahawan tentunya anaknya juga mempunyai pembawaan usahawan.
Benarkah perkembangan anak – anak semata – mata ditentukan oleh faktor pembawaan ? Untuk menjawab pertanyaan tersebut dapat digambarkan contoh Ilustrasi sebagai berikut. Apakah keluarga seorang yang baik pasti akan mempunyai anak yang baik ? Apakah seorang dari keluarga yang kurang baik akan mendapatkan anak – anak yang kurang baik saja ? atau dengan pertanyaan sebaliknya, apakah anak – anak yang jelek pasti dari keluarga yang jelek saja ? Tentu saja jawabannya, tidak. Berarti ada faktor lain di luar diri anak tersebut, bukan semata – mata karena pembawaannya (yang bersifat keturunan). Contoh lain bahwa perkembnagan bukan semata – mata ditentukan oleh pembawaan (yang bersifat bakat). Apakah anak yang kembar akan menjadi pribadi yang sama?, sama – sama menjadi baik atau sama – sama menjadi anak yang jelek ?.


  • Aliran Naturalisme
Aliran ini dipelopori oleh Jean Jaques Rousseau seorang Prancis yang hidup pada abad 18, dilahirkan pada tahun 1712 dan meninggal dunia pada tahun 1778. aliran ini ada persamaannya dengan teori nativisme, bahkan kadang – kadang disamakan. Padahal mempunyai perbedaan – perbedaan tertentu. Ajaran dalam teori ini mengatakan bahwa sejak lahir anak sudah memiliki pembawaan sendiri – sendiri baik bakat, minat, kemampuan, sifat, watak dan pembawaan – pembawaan lainnya. Pembawaan akan berkembang sesuai dengan lingkungan yang alami, bukan lingkungan yang dibuat – buat. Pembawaan yang dibawa anak hanya pembawaan yang baik saja, tidak sama dengan teori nativisme yang meliputi pembawaan baik dan buruk. Secara alami pembawaan itu akan berkembang sesuai dengan alamnya sendiri – sendiri secara baik, jika anak menjadi buruk maka lingkunganlah dalam pernyataan yang dikemukakan Rousseau : “Semua adalah baik dari tangan Pencipta, semua menjadi buruk di tangan manusia”.
Melihat pernyataan Rousseau dari uraian diatas bahwa sebetulnya lingkungan juga ikut mempengaruhi terhadap perkembangan anak. Tetapi tidak berpengaruh positif, melainkan hanya berpengaruh negatif saja, apabila lingkungan itu dibuat – dibuat, seperti lingkungan pendidikan.
Dengan kata lain jika pendidikan diartikan usaha sadar untuk mempengaruhi perkembangan anak seperti mengarahkan, mempengaruhi, menyiapkan, menghasilkan apalagi menjadikan anak kearah tertentu, maka usaha tersebut hanyalah berpengaruh jelek terhadap jelek terhadap perkembangan anak. Tetapi jika pendidikan diartikan membiarkan anak berkembang sesuai dengan pembawaan dengan lingkungan yang tidak dibuat – buat (alami), maka pendidikan yang dimaksud terakhir ini berpengaruh positif terhadap perkembangan anak. Hal ini sesuai dengan pernyataan Rousseau, “Pendidikan bukanlah suatu persiapan untuk hidup, melainkan memang hidup itu sendiri”. Pendidikan bukanlah harus mengikuti suatu prosedur tertentu, melainkan merupakan perkembngan atau pertumbuhan individu yang alami”.
Jadi lingkungan yang diinginkan dalam perkembangan anak adalah lingkungan yang tidak dibuat – buat, lingkungan yang alami, begitu juga yang berpengaruh terhadap perkembangan anak bukanlah pendidikan yang disengaja, melainkah pendidikan yang tidak disengaja. Pendidikan yang disengaja hanya berpengaruh negatif terhadap anak (karena pengaruh negatif inilah sehingga teori disebut juga negativisme). Yang menentukan yang memimpin, yang memerintah, yang mengarahkan hanyalah alamnya sendiri sesuai dengan pembawaan baik yang dimiliki anak sejak lahir. Tugas pendidikan adalah membiarkan anak berkembang menurut alamnya dan menjauhkan pengaruh yang jelek, karena kodrat pembawaan anak adalah baik.
Benarkah pembawaan mempengaruhi tehrdap perkembangan ? Benarkah yang dimiliki anak hanyalah pembawaan baik saja? Benarkah lingkungan atau masyarakat itu buruk ? Adakah pendidikan tanpa sengaja ? Pertanyaan pertama sudah terjawab pada pembahasan aliran nativisme. Jawaban pertanyaan keuda sangat tergantung dari keyakinan kita, terutama dari ajaran agama yang kita anut, karena pembawaan yang dibawa sejak lahir sama sekali tidak bisa dibuktikan secara empirik, sebab sejak lahir bahkan ketika masih dalam kandungan anak sudah tidak bisa dipisahkan dari lingkungannya. Sedangkan keyakinan yang mana ada pembawaan baik dan pembawaan buruk, memang dapat kita saksikan dalam kehidupan sehari – hari tanpa dikaitkan apakah terbawa  sejak lahir atau tidak. Untuk menjawab pertanyaan ketiga, dapat dihubungkan dengan pertanyaan kedua tetai terjadi kontradiktif. Kalau sejak dilahirkan anak telah memiliki pemebawaan yang baik, kemudian lingkungan atau masyarakat dikatakan buruk, padahal masyarakat adalah terdiri dari sekumpulan individu, tentunya justru masyarakat akan berpengaruh positif terhadap perkembangan anak. Atau masyarakat tetap berpengaruh jelek terhadap anak, tetapi pembawaannya anak yang dibawa sejak lahir buruk semua. Tentunya yang terakhir tidak kita setujui. Yang dapat kita akui adalah bahwa masyarakat atau lingkungan dapat berpengaruh baik dan dapat berpengaruh buruk, sedangkan pertanyaan keempat dapat dijawab dengan dua pilihan tentang pengertian pendidikan, diartikan secara luas yaitu meliputi segala sesuatu yang mempengaruhi terhadap perkembangan anak. Berarti pendidikan meliputi semua pengalaman manusia, meliputi semua kejadian. Atau pendidikan dapat diartikan hidup dan kehidupan itu sendiri. Contohnya tayangan – tayangan film yang maksud sutradara adalah agar pesan tertentu yang baik dapat dimiliki oleh penonton, tetapi yang ditangkap atau dicontoh oleh penonton jusru tingkah laku – tingkah laku yang lain, bahkan yang jelek, yang sebetulnya tidak diperhitungkan oleh sutradara, tetapi justru tingkah laku itulah yang ditangkap dan dimiliki oleh penonton. Pendidikan yang demikianlah yang dimaksud oleh Rosseau, pendidikan yang alami yang tanpa ada kesengajaan untuk membawa ke maksud tertentu. Contoh di atas justru maksud sutradalah yang tidak dikehendaki dalam pengertian pendidikan ini. Biarlah apa yang akan ditangkap oleh penonton dan nantinya akan secara alami akan dibentuk oleh lingkungan secara alami pula.
Sedangkan pengertian kedua, pendidikan diartikan usaha sadar dilakukan untuk membantu perkembangan anak didik sesuai dengan tuntutan lingkungannya. Bedanya dengan pengertian yang pertama, dalam pengertian ini ada usaha secara sadar, ada kesengajaan dalam melakukan kegiatan, ada usaha mempengaruhi dan ada usaha membawa anak kemaksud tertentu, sekalipun nantinya keputusan tergantung dari anak didik, dan pengertian pendidikan inilah yang kita jadikan dasar melakukan suatu pendidikan. Justru pengertian pendidikan yang pertama dapat dikatakan sebetulnya tidak da kegiatan pendidikan. Sekalipun kita menganut pengertian pendidikan yang kedua, pengertian pendidikan yang pertama harus tetap kita perhatikan sebab tetap banyak kejadian – kejadian di luar pendidikan yang kita sengaja ini mempengaruhi terhadap ank didik atau manusia pada umumnya.


  • Aliran Konvergensi
Aliran ini dipelopori oleh William Stern, seorang Jerman yang hidup pada abad 20, dilahirkan pada tahun 1871  dan meninggal dunia pada tahun 1938. sesuai dengan namanya teori ini berusaha memadukan dua teori dimuka yang terlalu ekstrim dari pandangan yang berbeda, di satu sisi hanya mengakui lingkungan (empirisme) yang menentukan perkembangan, sama sekali tidak mengakui adanya pembawaan, sedangkan disisi lain hanya mengakui pembawaan saja yang mempengaruhi perkembangan anak. Keduanya mengandung kebenaran dan keduanya mengandung ketidakbenaran. Faktor pembawaan dan faktor lingkungan sama–sama mempunyai peranan yang sangat penting, keduanya tidak dapat dipisahkan, sebagaimana teori nativisme, teori ini juga mengakui bahwa pembawaan yang dibawa anak sejak lahir juga meliputi pembawaan baik dan pembawaan buruk. Pembawaan yang di bawa anak sejak lahir tidak akan bisa berkembang dengan baik tanpa adanya dukungan lingkungan yang sesuai dengan pembawaan tersebut. Sebaliknya, sekalipun lingkungan yang bagaimana baiknya tidak akan menghasilkan perkembangan yang baik jika memang pada diri anak tidak ada pembawaan atau bakat seperti yang diharapkan akan dikembangkan. Sebagai contoh, diketemukan seorang anak di India yang tidak bisa berbicara sebagaimana seusia sebayanya (9 tahun) dan tidak bisa berjalan tegak sebagaimana pada umumnya, tetapi menggunakan tangan dan kaki sebagaimana binatang. Padahal telah kita ketahui bahwa manusia memiliki pembawaan berjalan tegak dan mempunyai potensi berbahasa yang terus berkembang, tetapi karena anak tadi dibesarkan oleh seekor serigala maka segala tingkah lakunya menyerupai binatang. Contoh ini menggambarkan ada pembawaan baik, tetapi tidak di dukung oleh lingkungan yang baik sehingga tidak bisa berkembang sesuai dengan yang diharapkannya. Contoh yang lain, seorang anak normal seusia 5 bulan kita harapkan sudah dapat berjalan. Dengan menggunakan berbagai teknologi modern untuk mengupayakan agar bisa berjalan. Upaya tersebut akan sia – sia, bahkan bisa jadi fatal akibatnya misalnya patah kaki atau berbentuk X atau 0. kemudian anak normal usia satu tahun kita harapkan sudah bisa berbicara dengan baik dengan bantuan berbagai alat teknologi modern sekalipun, anak tersebut tetap tidak akan bisa berbicara dengan baik. Sebab pada pembawaannya anak baru dapat bisa berjalan sekitar umur satu tahun dan anak bisa berbicara dengan baik sekitar umur tiga tahun. Pada contoh terakhir ini upaya memberikan lingkungan yang baik tetapi tidak di dukung oleh pembawaannya. Sekalipun ada potensi untuk dikembangkan, yakni potensi bisa berjalan dan potensi bisa berbicara, tetapi pembawaannya ini terkait juga dengan waktu, yaitu munculnya potensi tersebut sehingga dapat berjalan atau dapat berbicara.
Berdasarkan pandangan tersebut, William Stem menyimpulkan bahwa perkembangan anak tergantung dari pembawaan dan lingkungan, yang keduanya merupakan sebagaimana dua garis yang bertemu atau menuju pada satu titik yang disebut konvergensi. Istilah yang digunakan oleh Kihajar Dewantara adalah dasar sebagai pembawaan dan ajar sebagai lingkungannya, yang keduanya mempengaruhi terhadap perkembangan anak didik, sama–sama tidak bisa dipisahkan. Bahkan dilukiskan bahwa anak sejak lahir telah membawa pembawaan sendiri–sendiri bagaikan meja berlapis lilin yang tertulisi remang–remang, tergantung dan lingkungannya untuk memperjelas tulisan–tulisan yang baik dan membiarkan atau menghalangi agar tulisan–tulisan yang baik dan membiarkan atau menghalangi agar tulisan–tulisan yang jelek tidak akan muncul atau bahkan kalau bisa dihapuskannya. Tulisan baik dan buruk dimaksudkan bahwa pada diri manusia ada pembawaan baik dan ada pembawaan buruk.
Dari uraian ketiga teori tersebut, teori yang cocok  dapat diterima sesuai dengan kenyataan adalah teori konvergensi, yang tidak mengekstrimkan faktor pembawaan, faktor lingkungan atau alamiah yang mempengaruhi terhadap perkembangan anak, melainkan semuanya dari faktor – faktor tersebut mempengaruhi terhadap perkembangan anak. Akan tetapi teori ini juga tidak bisa diterima jika anak didik sebagai subjek yang berkembang hanya dianggap menerima akibat pengaruh dari faktor–faktor tersebut. Artinya anak dalam menerima atau dipengaruhi faktor tersebut hanya menerima secara pasif saja bagaikan benda yang ditekan dari arah yang berbeda sehingga dapat ditentukan arah, kecepatan, jauh – dekatnya benda tersebut terlempar. Hal ini bertentangan dengan hakikat manusia sebagai manusia yang aktif. Sebagai contoh orang tua yang mempunyai status sosial ekonomi yang baik bahkan sangat memperhatikan terhadap tingkah laku anaknya walau yang sekecil apapun, menginginkan anaknya yang telah menyelesaikan sekolah SD dan SMP dengan baik untuk melanjutkan ke suatu sekolah SMA yang baik yang sesuai dengan minat anak tersebut. Setelah diterima dan mengikuti pendidikan disekolah tersebut, tiba – tiba ditengah jalan anak tersebut menunjukkan tingkah laku yang negatif, misalnya bolos, pulang terlambat, bahkan kadang-kadang tidak pulang. Padahal tingkah laku terlambat, bahkan kadang-kadang tidak pulang. Padahal tingkah laiu tersebut tidak pernah dilakukan pada masa pendidikan sebelumnya. Kemudian orang tua anak tersebut berusaha mencari penyebab dan penyelesaiannya. Misalnya dengan menghubungi teman-teman terdekatnya dengan pesan-pesan tertentu, menghubungi guru-guru termasuk petugas BP-nya, menasihati, mengajak membicarakan dengan anak tersebut dan berbagai usaha telah ditempuhnya, bahkan usaha yang bersifat irasional pun telah ditempuhnya, tetapi rupanya tidak membuahkan hasil dan gagallah sekolah anak tersebut, gagallah cita-cita orang tua agar anaknya menjadi anak yang berguna bagi keluarga, masyarakat, bangsa, negara dan agama.
Dari contoh tersebut dilihat dari teori konvergensi yang apabila memperlakukan anak semata-mata sebagai objek pengaruh faktor pembawaan dan lingkungan, atau dianggap manusia yang pasif maka teori tersebut masih tetap salah. Karena dilihat dari pembawaannya anak tersebut dari orang tua yang baik status sosial ekonominya. Anak tersebut dapat menyelesaikan studi sebelumnya dengan baik. Sedangkan lingkungan yang ada juga dapat dikatakan baik. Hal ini dapat dilihat dari usaha orang tua, perhatian orang tua, pilihan sekolah yang baik, dan usaha-usaha lainnya untuk mempengaruhi anaknya agar mempunyai masa depan yang baik. Akan tetapi pembawaan dan lingkungan tersebut tidak bisa seratus persen menentukan keberhasilan perkembangan anak. Hal ini berarti selain kedua faktor tersebut, keaktifan diri : reaksi, pilihan, penentuan dari diri anak tersebut ikut mempengaruhi terhadap perkembangan anak.
Bahkan oleh Kihajar Dewantara dikatakan keaktifan diri inilah yang dapat dipengaruhi oleh pendidikan agar dapat menguasai diri, jika penguasaan diri dimiliki, maka jiwa atau pembawaan yang jelek dapat dikuasai, dikendalikan, bahkan mungkin bisa dihilangkan. Sebab pada dasarnya ada pembawaan baik dan ada pembawaan jelek. Dan dalam jiwa manusia terdapat bagian yang bersifat biologis, yaitu keadaan jiwa yang berhubungan dengan perasaan yang sudah mendarah daging pada diri manusia, dan bagian inilah yang tidak dapat diubah oleh lingkungannya. Sedangkan bagian jiwa lainnya adalah yang bersifat intelligibel, yaitu keadaan jiwa manusia yang berhubungan dengan pikiran. Keadaan inilah yang dapat dipengaruhi oleh lingkungan dan keadaan, termasuk pendidikan, jika bagian ini terus dikembangkan sehingga dapat menguasai diri, maka bagian biologis jiwa manusia tersebut dapat dikuasai. Dalam kaitannya dengan keaktifan pada diri manusia jika hal tersebut sudah termasuk dalam pembawaan, maka teori konvergensi sudah memadai.
Pertanyaan selanjutnya, manakah diantara faktor hereditas dan faktor lingkungan yang mempunyai pengaruh besar terhadap perkembangan anak. Jawaban dari pertanyaan tersebut tidak bisa segera ditentukan yang mana yang lebih mempengaruhi terhadap perkembangan, seperti pada teori nativisme atau teori empirisme. Teori konvergensi tidak membedakan mana yang lebih menonjol, tetapi keduanya merupakan faktor yang sama-sama saling mempengaruhi terhadap perkembangan anak. Baik faktor heriditas maupun faktor lingkungan keduanya mempunyai ciri sendiri-sendiri, keduanya mempunyai rentangan kuantitas dan kualitasnya. Sebagai ilustrasinya, pembawaan yang dibawa anak bagaikan meja berlapis lilin yang sudah tercoreti, ada yang sudah penuh dan ada yang belum penuh, ada yang tercoreti secara remang-remang dan ada yang sudah lebih jelas. Begitu juga yang terjadi pada lingkungan, ada yang kuat dan sampai yang kurang kuat, dan banyak sedikitnya macam lingkungan yang mempengaruhi juga berbeda. Sehingga tidak bisa ditentukan mana yang lebih kuat di antara keduanya. Yang penting dengan adanya keaktifan pada diri anak, anak perlu mendapat bantuan agar dapat mengetahui dan menyadari apa yang jadi pembawaannya. Pembawaan-pembawaan yang buruk perlu dihambat bahkan dihilangkan perkembangannya. Juga perlu disadarkan bahwa di lingkungan sekitar anak terdapat lingkungan yang bermacam ada yang baik dan ada yang buruk. Dengan keaktifan pada diri, anak dapat menyadari mana yang menunjang dan mana yang menghambat perkembangan pembawaan yang dibawanya.

Aliran-Aliran Modern dalam Pendidikan


  • Aliran Progresivisme

Progresivisme adalah suatu gerakan dan perkumpulan yang didirikan pada tahun 1918. Aliran ini berpendapat bahwa pengetahuan yang benar pada masa kini mungkin tidak benar di masa mendatang. Pendidikan harus terpusat pada anak bukannya memfokuskan pada guru atau bidang muatan. Beberapa tokoh dalam aliran ini : George Axtelle, William O. Stanley, Ernest Bayley, Lawrence B. Thomas dan Frederick C. Neff.
Progravisme mempunyai konsep yang didasari oleh pengetahuan dan kepercayaan bahwa manusia itu mempunyai kemampuan-kemampuan yang wajar dan dapat menghadapi dan mengatasi masalah-masalah yang bersifat menekan atau mengancam adanya manusia itu sendiri (Barnadib, 1994:28). Oleh karena kemajuan atau progres ini menjadi suatu statemen progrevisme, maka beberapa ilmu pengetahuan yang mampu menumbuhkan kemajuan dipandang merupakan bagian utama dari kebudayaan yang meliputi ilmu-ilmu hayat, antropologi, psikologi dan ilmu alam.
Progresivisme berpendapat tidak ada teori realita yang umum. Pengalaman menurut progresivisme bersifat dinamis dan temporal; menyala. tidak pernah sampai pada yang paling ekstrem, serta pluralistis. Menurut progresivisme, nilai berkembang terus karena adanya pengalaman-pengalaman baru antara individu dengan nilai yang telah disimpan dalam kehudayaan. Belajar berfungsi untuk :mempertinggi taraf kehidupan sosial yang sangat kompleks. Kurikulum yang baik adalah kurikulum yang eksperimental, yaitu kurikulum yang setiap waktu dapat disesuaikan dengan kebutuhan.
Progresvisme merupakan pendidikan yang berpusat pada siswa dan memberi penekanan lebih besar pada kreativitas, aktivitas, belajar "naturalistik", hasil belajar "dunia nyata" dan juga pengalaman teman sebaya.
Tokoh-tokoh Progresivisme :

  1. William James (11 Januari 1842 – 26 Agustus 1910) : James berkeyakinan bahwa otak atau pikiran, seperti juga aspek dari eksistensi organik, harus mempunyai fungsi biologis dan nilai kelanjutan hidup. Dan dia menegaskan agar fungsi otak atau pikiran itu dipelajari sebagai bagian dari mata pelajaran pokok dari ilmu pengetahuan alam. Jadi James menolong untuk membebaskan ilmu jiwa dari prakonsepsi teologis, dan menempatkannya di atas dasar ilmu perilaku.
  2. John Dewey (1859 - 1952) : Teori Dewey tentang sekolah adalah "Progressivism" yang lebih menekankan pada anak didik dan minatnya daripada mata pelajarannya sendiri. Maka muncullah "Child Centered Curiculum", dan "Child Centered School". Progresivisme mempersiapkan anak masa kini dibanding masa depan yang belum jelas.
  3. Hans Vaihinger (1852 - 1933) : Menurutnya tahu itu hanya mempunyai arti praktis. Persesuaian dengan obyeknya tidak mungkin dibuktikan; satu-satunya ukuran bagi berpikir ialah gunanya (dalam bahasa Yunani Pragma) untuk mempengaruhi kejadian-kejadian di dunia. Segala pengertian itu sebenarnya buatan semata-mata; jika pengertian itu berguna. untuk menguasai dunia, bolehlah dianggap benar, asal orang tahu saja bahwa kebenaran ini tidak lain kecuali kekeliruan yang berguna saja.

Pandangan Progesivisme dan Penerapannya di Bidang Pendidikan :

  1. Anak didik diberikan kebebasan baik secara fisik maupun cara berpikir, guna mengembangkan bakat dan kemampuan yang terpendam dalam dirinya, tanpa terhambat oleh rintangan yang dibuat oleh orang lain, Oleh karena itu filsafat progressivisme tidak menyetujui pendidikan yang otoriter. Sebab, pendidikan otoriter akan mematikan tunas-tunas para pelajar untuk hidup sebagai pribadi-pribadi yang gembira menghadapi pelajaran. Dan sekaligus mematikan daya kreasi baik secara fisik maupun psikis anak didik.
  2. Filsafat progresivisme menghendaki jenis kurikulum yang bersifat luwes (fleksibel) dan terbuka. Jadi kurikulum itu bisa diubah dan dibentuk sesuai dengan zamannya.Sifat kurikulumnya adalah kurikulum yang dapat direvisi dan jenisnya yang memadai, yaitu yang bersifat eksperimental atau tipe Core Curriculum. Kurikulum dipusatkan pada pengalaman atau kurikulum eksperimental didasarkan atas manusia dalam hidupnya selalu berinteraksi didalam lingkungan yang komplek.
  3. Progresivisme tidak menghendaki adanya mata pelajaran yang diberikan terpisah, melainkan harus terintegrasi dalam unit. Dengan demikian core curriculum mengandung ciri-ciri integrated curriculum, metode yang diutamakan yaitu problem solving. Dengan adanya mata pelajaran yang terintegrasi dalam unit, diharapkan anak dapat berkembang secara fisik maupun psikis dan dapat menjangkau aspek kognitif, afektif, maupun psikomotor.



  • Aliran Esensialisme

Esensialisme adalah pendidikan yang di dasarkan kepada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia. Esensialisme muncul pada zaman Renaissance dengan ciri-ciri utama yang berbeda dengan progresivisme. Perbedaannya yang utama ialah dalam memberikan dasar berpijak pada pendidikan yang penuh fleksibilitas, serta terbuka untuk perubahan, toleran dan tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu. Esensialisme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama yang memberikan kestabilan dan nilai-nilai terpilih yang mempunyai tata yang jelas.
Idealisme dan realisme adalah aliran filsafat yang membentuk corak esensialisme. Dua aliran ini bertemu sebagai pendukung esensialisme, akan tetapi tidak lebur menjadi satu dan tidak melepaskan sifatnya yang utama pada dirinya masing-masing.
Dengan demikian Renaissance adalah pangkal sejarah timbulnya konsep-konsep pikir yang disebut esensialisme, karena itu timbul pada zaman itu, esensialisme adalah konsep meletakkan sebagian ciri alam pikir modern. Esensialisme pertama-tama muncul dan merupakan reaksi terhadap simbolisme mutlak dan dogmatis abad pertengahan. Maka, disusunlah konsep yang sistematis dan menyeluruh mengenai manusia dan alam semesta, yang memenuhi tuntutan zaman
Tokoh-tokoh Esensialisme :

  1. Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770 – 1831) : mengemukakan adanya sintesa antara ilmu pengetahuan dan agama menjadi suatu pemahaman yang menggunakan landasan spiritual.
  2. George Santayana : memadukan antara aliran idealisme dan aliran realisme dalam suatu sintesa dengan mengatakan bahwa nilai itu tidak dapat ditandai dengan suatu konsep tunggal, karena minat, perhatian dan pengalaman seseorang menentukan adanya kualitas tertentu.

Pandangan Esensialisme dan Penerapannya di Bidang Pendidikan :

  1. Pandangan Essensialisme Mengenai Belajar : Idealisme, sebagai filsafat hidup, memulai tinjauannya mengenai pribadi individu dengan menitik beratkan pada aku. Menurut idealisme, bila seorang itu belajar pada taraf permulaan adalah memahami akunya sendiri, terus bergerak keluar untuk memahami dunia obyektif. Dari mikrokosmos menuju ke makrokosmos. Belajar dapat didefinisikan sebagai jiwa yang berkembang pada sendirinya sebagai substansi spiritual. Jiwa membina dan menciptakan diri sendiri.
  2. Pandangan Essensialisme Mengenai Kurikulum : Beberapa tokoh idealisme memandang bahwa kurikulum itu hendaklah berpangkal pada landasan idiil dan organisasi yang kuat.



  • Aliran Perenialisme

Perenialisme merupakan suatu aliran dalam pendidikan yang lahir pada abad ke-20. Perenialisme berasal dari kata perennial yang berarti abadi, kekal atau selalu. Perenialisme lahir sebagai suatu reaksi terhadap pendidikan progresif. Perenialisme menentang pandangan progresivisme yang menekankan perubahan dan sesuatu yang baru. Jalan yang ditempuh oleh kaum perenialis adalah dengan jalan mundur ke belakang, dengan menggunakan kembali nilai nilai atau prinsip prinsip umum yang telah menjadi pandangan hidup yang kuat, kukuh pada zaman kuno dan abad pertengahan.
Tokoh-tokoh Perenialisme :

  1. Plato : Tujuan utama pendidikan adalah membina pemimpin yang sadar akan asas normative dan melaksanakannya dalam semua aspek kehidupan.
  2. Aristoteles : Ia menganggap penting pembentukan kebiasaan pada tingkat pendidikan usia muda dalam menanamkan kesadaran menurut aturan moral.
  3. Thomas Aquinas : berpendapat pendidikan adalah menuntun kemampuan-kemampuan yang masih tidur menjadi aktif atau nyata tergantung pada kesadaran tiap-tiap individu. Seorang guru bertugad untuk menolong membangkitkan potensi yang masih tersembunyi dari anak agar menjadi aktif dan nyata.

Pandangan perenialisme tentang pendidikan :
Kaum perenialis berpandangan bahwa dalam dunia yang tidak menentu dan penuh kekacauan serta mambahayakan tidak ada satu pun yang lebih bermanfaat daripada kepastian tujuan pendidikan, serta kestabilan dalam perilaku pendidik. Mohammad Noor Syam (1984) mengemukakan pandangan perenialis, bahwa pendidikan harus lebih banyak mengarahkan pusat perhatiannya pada kebudayaan ideal yang telah teruji dan tangguh. Perenialisme memandang pendidikan sebagai jalan kembali atau proses mengembalikan keadaan manusia sekarang seperti dalam kebudayaan ideal.


  • Aliran Rekontruksinisme

Kata rekonstruksionisme dalam bahasa Inggris rekonstruct yang berarti menyusun kembali. Dalam konteks filsafat pendidikan, aliran rekonstruksionisme adalah suatu aliran yang berusaha merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang bercorak modern. Aliran rekonstruksionisme, pada prinsipnya, sepaham dengan aliran perenialisme, yaitu hendak menyatakan krisis kebudayaan modern. Kedua aliran tersebut, aliran rekonstruksionisme dan perenialisme, memandang bahwa keadaan sekarang merupakan zaman yang mempunyai kebudayaan yang terganggu oleh kehancuran, kebingungan dan kesimpangsiuran.
proses dan lembaga pendidikan dalam pandangan rekonstruksionisme perlu merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang baru, untuk mencapai tujuan utama tersebut memerlukan kerjasama antar ummat manusia.
Tokoh-tokoh Rekonstruksionisme :
Rekonstruksionisme dipelopori oleh George Count dan Harold Rugg pada tahun 1930, ingin membangun masyarakat baru, masyarakat yang pantas dan adil. Beberapa tokoh dalam aliran ini: Caroline Pratt, George Count, Harold Rugg.
Pandangan Rekonstruksionisme dan Penerapannya di Bidang Pendidikan :
Aliran rekonstruksionisme berkeyakinan bahwa tugas penyelamatan dunia merupakan tugas semua umat manusia atau bangsa. Karenanya pembinaan kembali daya inetelektual dan spiritual yang sehat akan membina kembali manusia melalui pendidikan yang tepat atas nilai dan norma yang benar pula demi generasi sekarang dan generasi yang akan datang, sehingga terbentuk dunia baru dalam pengawasan umat manusia.
Kemudian aliran ini memiliki persepsi bahwa masa depan suatu bangsa merupakan suatu dunia yang diatur, diperintah oleh rakyat secara demokratis dan bukan dunia yang dikuasai oleh golongan tertentu. Sila-sila demokrasi yang sungguh bukan hanya leori tetapi mesti menjadi kenyataan, sehingga dapat diwujudkan suatu dunia dengan potensi-potensi teknologi, mampu meningkatkan kualitas kesehatan, kesejahteraan dan kemakmuran serta keamanan masyarakat tanpa membedakan warna kulit, keturunan, nasionalisme, agama (kepercayaan) dan masyarakat bersangkutan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar