11 Desember 2012

Sistem Reproduksi pada Manusia

Sistem reproduksi adalah suatu rangkaian dan interaksi organ dan zat dalam organisme yang dipergunakan untuk berkembang biak.

Anatomi Sistem Reproduksi

  • Organ Reproduksi Laki-Laki

a. Testis (Gonad Jantan)
Testis terletak di dalam suatu kantong yang disebut skrotum. Kantong ini terletak di luar rongga perut, dibawah penis.
Testis berbentuk oval, agak gepeng dengan panjang sekitar 4 cm dan diameter sekitar 2.5 cm. Testis berjumlah sepasang (testes = jamak). Testis kiri dan kanan. Testis kiri dan kanan dibatasi oleh suatu sekat yang terdiri dari serat jaringan ikat dan otot polos. Biasanya testis kiri agak lebih rendah dari testis kanan.
Di dalam testis banyak terdapat pembuluh- pembuluh halus disebut tubulus seminiferus.
Testis berfungsi sebagai penghasil sperma oleh tubulus seminiferus, dan hormon testosteron oleh sel leydig.

b. Saluran Kelamin
  1. Vesika eferentia : Vasa eferentia berfungsi menampung sperma untuk disalurkan ke epididimis berjumlah antara 10-20 buah.
  2. Epididimis : Merupakan suatu struktur berbentuk koma yang menahan batas posterolateral testis. Epididimis dibentuk oleh saluran yang berlekuk-lekuk secara tidak teratur yang disebut duktus epididimis. Panjang duktus epididimis sekitar 600 cm. Duktus ini berawal dari puncak testis (kepala epididimis) dan berjalan berliku-liku kemudian berakhir pada ekor epididimis yang kemudian menjadi vas deferens. Setiap testis mempunyai satu epididimis. Oleh sebab itu, epididimis manusia berjumlah sepasang kanan dan kiri. Epididimis berfungsi menyimpan sperma untuk sementara (minimal selama tiga minggu). Di saluran ini cairan sperma diabsorpsi sehingga menjadi agak pekat, dan di sinilah sperma menjadi masak dan dapat bergerak menuju vas deferens.
  3. Vas Deferens : Vas deferens merupakan saluran lurus lanjutan langsung dari epididimis dengan panjang sekitar 40 cm yang berawal dari ujung bawah epididimis, naik disepanjang aspek posterior testis dalam bentuk gulungan-gulungan bebas, kemudian meninggalkan bagian belakang testis, duktus ini melewati korda spermatika menuju abdomen, bagian ujungnya terdapat di dalam kelenjar prostat. Di bagian ujung saluran ini terdapat saluran ejakulasi. Vas Deferens berfungsi untuk jalanya (mengangkut) sperma dari epididimis menuju ke kantong sperma atau vesikula seminalis.
  4. Saluran Ejakulasi : Saluran Ejakulasi merupakan saluran pendek yang menghubungkan kantong semen (vesika seminalis) dengan uretra. Saluran ejakulasi berfungsi untuk mengeluarkan sperma agar masuk ke dalam uretra. Saluran ini mempunyai keistimewaan, yaitu mampu menyemrotkan sperma tinggi masuk ke uretra dan selanjutnya keluar.
  5. Uretra : Uretra adalah saluran yang terdapat di dalam penis. Uretra merupakan saluran akhir dari saluran reproduksi. Uretra mempunyai dua fungsi, yaitu: sebagai alat pengeluaran, yaitu saluran untuk membuang urine keluar tubuh; serta sebagai saluran kelamin, yaitu sebagai saluran semen dari kantong mani.

c. Kelenjar Tambahan
  1. Vesikula Seminalis / Kantung Mani / Kantung Semen : Vesikula seminalis terletak di dasar kandung kemih di depan rectum. Vesikula seminalis merupakan sepasang struktur berongga dan berkantung-kantung tetapi terikat menjadi satu kantong. Masing-masing vesicular memiliki panjang 5 cm dan menempel lebih erat pada kandung kemih daripada pada rectum. Semen adalah cairan yang terdiri atas sperma dan cairan yang dihasilkan oleh berbagai kelenjar tambahan. Komponen penting pada semen yang berasal dari vesukula seminalis adalah fruktosa dan prostaglandin. Bahan-bahan kimia tersebut berfungsi untuk memberi makan dan melindungi sperma sebelum membuahi ovum. 
  2. Kelenjar Prostat : Kelenjar frostat merupakan kelenjar berbentuk bulat yang mengelilingi bagian pangkal saluran uretra, terletak di bagian bawah kantung kemih. Kelenjar ini menghasilkan cairan yang bersifat basa dan berwarna putih seperti susu, yang mengandung kolesterol, garam dan fosfolipid. Cairan tersebut berfungsi untuk menetralkan sifat asam pada vasa eferentia dan cairan yang ada di dalam vagina sehingga sprema dapat bergerak aktif.
  3. Kelenjar Cowper / Bulbouretralis : Kelenjar cowper terletak di bagian proksimal (pangkal) uretra. Kelenjar cowper berukuran sebesar butir kacang. Salurannya langsung menuju uretra. Kelenjar cowper menghasilkan cairan mukosa yang berfungsi sebagai pelicin.

d. Alat Kelamin Luar
  1. Penis : Penis terdiri dari: a) Akar (menempel pada dinding perut); b) Badan (merupakan bagian tengah dari penis). Badan penis terdiri dari 3 rongga silindris (sinus) jaringan erektil: (a) 2 rongga yang berukuran lebih besar disebut korpus kavernosus, terletak bersebelahan; (b) Rongga yang ketiga disebut korpus spongiosum, mengelilingi uretra. Jika rongga tersebut terisi darah, maka penis menjadi lebih besar, kaku dan tegak (mengalami ereksi). (c) Glans penis (ujung penis yang berbentuk seperti kerucut). Di dalam penis tedapat uretra (saluran tempat keluarnya semen dan air kemih). Lubang uretra  terdapat di ujung glans penis. Dasar glans penis disebut korona. Pada pria yang tidak disunat (sirkumsisi), kulit depan (preputium) membentang mulai dari korona menutupi glans penis. Penis befungsi untuk memasukkan sperma ke dalam tubuh perempuan.
  2. Skrotum / Kantung Pelir : Skrotum merupakan kantung yang di dalamnya berisi testis. Skrotum berjumlah sepasang, yaitu skrotum kanan dan skrotum kiri. Di antara skrotum kanan dan skrotum kiri dibatasi oleh sekat yang berupa jaringan ikat dan otot polos (otot dartos). Otot dartos berfungsi untuk menggerakan skrotum sehingga dapat mengerut dan mengendur. Di dalam skrotum juga tedapat serat-serat otot yang berasal dari penerusan otot lurik dinding perut yang disebut otot kremaster. Otot ini bertindak sebagai pengatur suhu lingkungan testis agar kondisinya stabil. Skrotum berfungsi melindungi testis dan epididimis dari cedera fisik serta mengatur suhu yang sesuai bagi spermatozoa

  • Organ Reproduksi Perempuan

a. Ovarium (Gonad Betina)
Ovarium terletak di dalam rongga badan, di daerah pinggang dan disebelah kiri dan kanan tulang kemudi.
Ovarium berjumlah sepasang. Berbentuk oval dengan panjang 3-4 cm. Di dalam ovarium terdapat kelenjar buntu yang menghasilkan hormon dan folikel yang menghasilkan sel telur (ovum). Ovarium terbungkus oleh kapsul pelindung yang kuat dan banyak mengandung folikel. Ovarium berfungsi untuk memproduksi ovum dan menyekresi hormon estrogen dan progesteron.

b. Saluran Kelamin
  1. Fimbriae : Fimbriae merupakan serabut/silia lembut yang terdapat di bagian pangkal ovarium berdekatan dengan ujung saluran oviduk. Berfungsi untuk menangkap sel ovum yang telah matang yang dikeluarkan oleh ovarium.
  2. Infundibulum : Infundibulum merupakan bagian ujung oviduk yang berbentuk corong dan berdekatan dengan fimbriae. Berfungsi menampung sel ovum yang telah ditangkap oleh fimbriae.
  3. Oviduk / Tuba Fallopi / Saluran Telur : Merupakan saluran memanjang setelah infundibulum. Saluran telur berjumlah sepasang, yaitu kanan dan kiri. Panjang saluran ini sekitar 12 cm dan diameternya antara 3 sampai 8 mm. Oviduk berfungsi sebagai tempat fertilisasi dan jalan bagi sel ovum menuju uterus dengan bantuan silia pada dindingnya.
  4. Uterus / Rahim : Uterus terletak di pelvis minor diantara kandung kemih dan rektum. Uterus merupakan organ yang berongga dan berotot. Berbentuk sperti buah pir dengan bagian bawah yang mengecil. Untuk mempertahankan posisinya, uterus disangga beberapa ligamentum, jaringan ikat dan parametrium. Ukuran uterus tergantung dari usia wanita dan paritas. Ukuran anak-anak 2-3 cm, nullipara 6-8 cm, multipara 8-9 cm dan pada wanita hamil > 80 gram. Uterus dapat menahan beban hingga 5 liter. Dinding uterus tebal, panjang sekitar 7,5 cm, dan lebar sekitar 5 cm. Uterus mempunyai 3 lapisan dinding yaitu perimetrium, miometrium dan endometrium. Uterus berfungsi sebagai tempat pertumbuhan embrio. Tipe uterus pada manusia adalah simpleks yaitu dengan satu ruangan yang hanya untuk satu janin. Selama kehamilan uterus mampu mengembang sampai 500 kali.
  5. Cervix : Cervix merupakan bagian dasar uterus yang berbentuk menyempit sehingga disebut leher rahim, yang menghubungkan uterus dengan saluran vagina dan sebagai jalan keluarnya janin dari uterus menuju saluran vagina.
  6. Vagina : Vagina merupakan saluran yang terletak di bawah uterus, menghubungkan organ uterus dengan tubuh bagian luar. Panjang bagian depannya sekitar 9 cm dan dinding belakangnya sekitar 11 cm. Bagian serviks yang menonjol ke dalam vagina disebut portio. Portio uteri membagi puncak (ujung) vagina menjadi: a) Forniks anterior - Forniks dekstra; b) Forniks posterior - Forniks sisistra. Sel dinding vagina mengandung banyak glikogen yang menghasilkan asam susu dengan pH 4,5. keasaman vagina memberikan proteksi terhadap infeksi. Dinding vagina mempunyai banyak selaput lendir yang berkelenjar, salah satu kelenjar yang penting ialah glandula Bartholini. Vagina berfungsi sebagai tempat bagi penis pada saat kopulasi, sebagai jalan bayi pada proses persalinan, dan saluran untuk mengeluarkan lendir uterus dan menstrulasi. Vagina mempunyai banyak lipatan. Hal ini mempermudah wanita pada waktu melahirkan bayinya, sehingga vagina tersebut tidak sobek.

c. Alat Kelamin Luar / Vulva
  1. Mons Pubis / Mons Veneris / Tundun : Merupakan bagian yang tebal dan banyak mengandung jaringan lemak terletak pada bagian paling atas dari vulva. Area ini mulai ditumbuhi bulu pada masa pubertas.
  2. Labia Mayora  : Labia mayora merupakan sepasang bibir besar yang terletak di bagian luar dan membatasi vulva. Merupakan kelanjutan dari mons veneris, berbentuk lonjong, kedua bibir ini bertemu di bagian bawah dan membentuk perineum. Labia mayora bagian luar tertutup rambut, yang merupakan kelanjutan dari rambut pada mons veneris. Labia mayora bagian dalam tanpa rambut, merupakan selaput yang mengandung kelenjar sebasea (lemak). Ukuran labia mayora pada wanita dewasa: panjang 7-8 cm, lebar 2-3 cm, tebal 1-1,5 cm. Di depan labia mayora terdapat tonjolan kecil yang disebut klitoris (kelentit). Labia mayora erfungsi untuk melindungi organ di dalamnya.
  3. Labia Minora : Labia minora merupakan sepasang bibir kecil yang terletak di bagian dalam labia mayora dan membatasi vulva. Labia minora banyak mengandung pembuluh darah dan saraf. Labia minora menyatu di bagian atas membentuk klitoris. Labia minora mengelilingi vestibulum.
  4. Klitoris / Kelentit : Sebuah jaringan ikat erektil kecil kira-kira sebesar biji kacang hijau yang dapat mengeras dan tegang (erectil) yang mengandung urat saraf. Homolog dengan penis dan merupakan organ perangsang seksual pada wanita.
  5. Vestibulum / Serambi : Merupakan rongga yang berada di antara bibir kecil (labia minora), muka belakang dibatasi oleh klitoris dan perineum. Pada vestibula terdapat 6 buah lubang, yaitu orifisium urethra eksterna, introitus vagina, 2 buah muara kelenjar Bartholini, dan 2 buah muara kelenjar paraurethral. Kelenjar bartholini berfungsi untuk mensekresikan cairan mukoid ketika terjadi rangsangan seksual. Kelenjar bartholini juga menghalangi masuknya bakteri Neisseria gonorhoeae maupun bakteri-bakteri pathogen
  6. Himen / Selaput Dara : Terdiri dari jaringan ikat kolagen dan elastic. Lapisan tipis ini yang menutupi sabagian besar dari vagina, di tengahnya berlubang supaya kotoran menstruasi dapat mengalir keluar. Bentuk himen dari masing-masing wanita berbeda-beda, ada yang berbentuk seperti bulan sabit, konsistensi ada yang kaku dan ada lunak, lubangnya ada yang seujung jari, ada yang dapat dilalui satu jari. Saat melakukan koitus pertama sekali dapat terjadi robekan, biasanya pada bagian posterior.
  7. Perineum / Kerampang : Terletak di antara vulva dan anus, panjangnya kurang lebih 4 cm. Dibatasi oleh otot-otot muskulus levator ani dan muskulus coccygeus. Otot-otot berfungsi untuk menjaga kerja dari sphincter ani

Pembentukan Sel Kelamin

  • Spermatogenesis
Spermatogenesis adalah perkembangan spermatogonia menjadi spermatozoa. Spermatogenesis terjadi di dalam di dalam testis, tepatnya pada tubulus seminiferus. Spermatogenesis berlangsung sekitar 64 hari.
Pada tahap pertama spermatogenesis, spermatogonia yang bersifat diploid (2n atau mengandung 23 kromosom berpasangan), berkumpul di tepi membran epitel germinal yang disebut spermatogonia tipe A. Spermatogenia tipe A membelah secara mitosis menjadi spermatogonia tipe B. Kemudian, setelah beberapa kali membelah, sel-sel ini akhirnya menjadi spermatosit primer yang masih bersifat diploid. Setelah melewati beberapa minggu, setiap spermatosit primer membelah secara meiosis membentuk dua buah spermatosit sekunder yang bersifat haploid. Spermatosit sekunder kemudian membelah lagi secara meiosis membentuk empat buah spermatid. Spermatid merupakan calon sperma yang belum memiliki ekor dan bersifat haploid (n atau mengandung 23 kromosom yang tidak berpasangan). Setiap spermatid akan berdiferensiasi menjadi spermatozoa (sperma). Proses perubahan spermatid menjadi sperma disebut spermiasi.
Ketika spermatid dibentuk pertama kali, spermatid memiliki bentuk seperti sel-sel epitel. Namun, setelah spermatid mulai memanjang menjadi sperma, akan terlihat bentuk yang terdiri dari kepala dan ekor. Ukuran spermatozoa (sperma) adalah 60 mikron

  • Oogenesis
Oogenesis merupakan proses pembentukan ovum. Oogenesis terjadi di dalam ovarium. Di dalam ovarium atau indung telur terdapat oogonium (oogonia = jamak). Oogonium bersifat diploid (2n = mengandung 23 pasang kromosom atau 46 buah kromosom). 
Oogenesis telah dimulai sejak bayi perempuan masih dalam kandungan ibunya berusia sekitar 5 bulan. Oogonium akan memperbanyak diri dengan membelah berulang kali secara mitosis, membentuk oosit primer. Oosit primer terbungkus dalam folikel yang penuh dengan cairan nutrisi yang diperlukan untuk pertumbuhan ovum.
Pada saat bayi perempuan lahir, di dalam tiap ovariumnya mengandung sekitar satu juta oosit primer. Oosit primer ini mengalami dorman atau mengalami fase istirahat beberapa tahun hingga anak perempuan tersebut mengalami pubertas. Selama pertumbuhan anak perempuan, beberapa oosit primer akan mengalami degenerasi, hingga ketika mencapai usia pubertas jumlah oosit primer hanya tinggal sekitar 200.000 buah.
Memasuki usia pubertas sekresi hormon estrogen akan memacu oosit primer untuk melanjutkan proses oogenesis; oosit primer mengalami meiosis pertama menghasilkan 2 sel berbeda ukuran yaitu oosit sekunder (berukuran besar) dan polosit primer (berukuran kecil).
Oogenesis terhenti hingga terjadi ovulasi, bila tidak terjadi fertilisasi oosit sekunder akan mengalami degenerasi. Namun bila ada penetrasi sperma dan terjadi fertilisasi, oogenesis akan dilanjutkan dengan pembelahan meiosis kedua; oosit sekunder membelah menjadi 2 yaitu ootid (berukuran besar) dan polosit sekunder (berukuran kecil). Sedangkan polosit primer membelah menjadi 2 polosit sekunder. Sehingga pada akhir oogenesis dihasilkan 3 polosit dan 1 ootid yang berkembang menjadi ovum
Selama perkembangan oosit primer hingga menjadi oosit sekunder berada dalam folikel, yaitu suatu kantung pembungkus yang penuh cairan yang menyediakan nutrisi bagi oosit. Semula oosit primer berada dalam folikel primer kemudian berkembang menjadi folikel sekunder. Ketika terbentuk oosit sekunder, folikel telah berkembang menjadi folikel tersier dan akhirnya menjadi folikel de Graaf (folikel yang telah matang) Setelah ovulasi atau lepasnya oosit sekunder folikel telur akan berubah menjadi korpus luteum. Korpus luteum mengalami degenersi membentuk korpus albikan.

Fertilisasi
Pembuahan adalah proses peleburan antara satu sel sperma dan satu sel ovum yang sudah matang. Proses fertilisasi terjadi di bagian oviduk yang paling lebar.
Ovum yang telah masak akan keluar dari ovarium. Proses tersebut dinamakan ovulasi. Ovum yang telah masak tersebut akan masuk ke oviduk. Jutaan sperma harus berjalan dari vagina menuju uterus dan masuk ke oviduk. Dalam perjalanan itu, kebanyakan sperma dihancurkan oleh mukus (lendir) asa di dalam uterus dan oviduk. Di antara beberapa sel sperma yang bertahan hidup, hanya satu yang masuk menembus membran ovum. Setelah terjadi pembuahan, membran ovum segera mengeras untuk mencegah sel sperma lain masuk. 
Hasil pembuahan adalah zigot. Zigot mengalami pertumbuhan dan perkembangan sebagai berikut:
  1. Zigot membelah menjadi 2 sel, 4 sel, dan seterusnya.
  2. Dalam waktu bersamaan lapisan dinding dalam uterus menjadi tebal seperti spons, penuh dengan pembuluh darah, dan siap menerima zigot.
  3. Karena kontraksi otot dan gerak silia diding oviduk, zigot menuju ke uterus dan menempel di dinding uterus untuk tumbuh dan berkembang.
  4. Terbentuk plsenta dan tali pusat yang merupakan penghubung antara embrio dan jaringan ibunya. Fungsi plasenta dan tali pusat adalah mengalirkan oksigen dan zat-zat makanan dari ibu ke embrio, serta mengalirkan sisa-sisa metabolisme dari embrio ke peredaran darah ibunya.
  5. Embrio dikelilingi cairan amnion yang berfungsi melindungi embrio dari bahaya benturan yang mungkin terjadi.
  6. Embrio berusia empat minggu sudah menunjukkan adanya pertumbuhan mata, tangan, dan kaki.
  7. Setelah berusia enam minggu, embrio sudah berukuran 1,5 cm. Otak, mata, telinga, dan jantung sudah berkembang. Tangan dan kaki, serta jari-jarinya mulai terbentuk.
  8. Setelah berusia delapan minggu, embrio sudah tampak sebagai manusia dengan organ-organ tubuh lengkap. Kaki, tangan, serta jari-jarinya telah berkembang. Mulai tahap ini sampai lahir, embrio disebut fetus (janin).
  9. Setelah mencapai usia kehamilan kira-kira sembilan bulan sepuluh hari, bayi siap dilahirkan. Jika ovum yang sudah masak tidak dibuahi oleh sperma, jaringan penyusun dinding rahim yang telah menebal dan mengandung banyak pembuluh darah akan rusak dan luruh/runtuh. Bersama-sama dengan ovum yang tidak dibuahi, jaringan tersebut dikeluarkan dari tubuh lewat vagina dalam proses yang disebut menstrulasi (haid).

Kelainan pada Sistem Reproduksi
  1. AIDS : AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus HIV (Human Immunodeficiency Virus). Penyakit ini menyerang sel-sel darah putih yang merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh. Akibatnya, jika terinfeksi kuman tertentu yang bagi orang biasa tidak membahayakan. penderita AIDS dapat meninggal. Seseorang yang terinfeksi HIV, sistem kekebalan tubuhnya akan semakin menurun, berkurang dan akhirnya hilang. Orang yang terinfeksi HIV fase I, nampaknya seperti orang sehat, belum memperlihatkan gejala. Fase ini berlangsung 5-7 tahun, tergantung kekebalan tubuh penderita. Pada fase II muncul gejala awal penyakit yang terkait HIV, seperti: hilang selera makan, tubuh lemah, berkeringat berlebihan di malam hari, timbul bercak-bercak di kulit, pembengkakan kelenjar getah bening, diare terus-menerus, flu tidak sembuh-sembuh. Fase ini berlangsung sekitar 6 bulan sampai 2 tahun. Tahap AIDS baru dapat terdiagnosis setelah kekebalan tubuh sangat berkurang dan timbul penyakit tertentu seperti TBC, pneumonia, herpes, saraf terganggu, dan lain-lain. Perlu diketahui bahwa tidak semua orang yang mengidap penyakit tersebut di atas pasti menderita AIDS. Fase ini berlangsung 3-6 bulan. Untuk memastikan apakah seseorang positif AIDS atau tidak, harus dilakukan pemeriksaan banyaknya sel T di laboratorium. Sampai sekarang orang tidak dapat menyebut secara pasti gejala AIDS, karena gejala AIDS tidak khas. Penyakit ini menular melalui cairan tubuh. Menghirup udara di sekitar penderita AIDS atau bersalaman dengan penderita AIDS, tidak menyebabkan tertular. AIDS dapat menular melalui transfusi darah dari penderita AIDS, melalui jarum suntik yang pernah dipakai penderita AIDS, dan berhubungan seksual dengan penderita AIDS. Bayi yang dikandung ibu penderita AIDS kemungkinan juga dapat tertular. Sampai sekarang, penyakit mematikan ini belum ada obatnya.
  2. Gonorhoea / Kencing Nanah : Penyakit gonorhoea disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae. Bakteri ini selain menimbulkan radang pada organ reproduksi (vagina, saluran Fallopii, epididimis, kelenjar prostat), juga dapat menimbulkan radang pada saluran kemih, mata, persendian, dan selaput otak. Kalau tidak segera diobati, penyakit ini dapat menyebabkan kemandulan. Pada pria, gejala awal gonore biasanya timbul dalam waktu 2-7 hari setelah terinfeksi. Gejalanya berawal sebagai rasa tidak enak pada uretra dan beberapa jam kemudian diikuti oleh nyeri ketika berkemih serta keluarnya nanah dari penis. Sedangkan pada wanita, gejala awal biasanya timbul dalam waktu 7-21 hari setelah terinfeksi. Penderita seringkali tidak merasakan gejala selama beberapa minggu atau bulan, dan diketahui menderita penyakit tersebut hanya setelah pasangan hubungan seksualnya tertular. Jika timbul gejala, biasanya bersifat ringan. Tetapi beberapa penderita menunjukkan gejala yang berat, seperti desakan untuk berkemih, nyeri ketika berkemih, keluarnya cairan dari vagina, dan demam. Infeksi dapat menyerang leher rahim, rahim, saluran telur, indung telur, uretra, dan rektum serta menyebabkan nyeri pinggul yang dalam ketika berhubungan seksual. Penyakit ini bisa menular terutama melalui hubungan seksual. Bayi yang baru lahir juga bisa terinfeksi gonore dari ibunya selama proses persalinan sehingga terjadi pembengkakan pada kedua kelopak matanya dan dari matanya keluar nanah. Jika infeksi itu tidak diobati, maka akan menimbulkan kebutaan. Gonore biasanya diobati dengan suntikan tunggal seftriakson intramuskuler (melalui otot) atau dengan pemberian antibiotik per-oral (melalui mulut) selama satu minggu (biasanya diberikan doksisiklin). Jika gonore telah menyebar melalui aliran darah, biasanya penderita dirawat di rumah sakit dan mendapatkan antibiotik intravena (melalui pembuluh darah atau infus).
  3. Herpes Genital : Penyakit ini disebabkan oleh Virus herpes simpleks tipe II. Penyakit ini menyerang kulit di daerah genitalia luar, anus, dan vagina. Gejala penyakit ini berupa gatal-gatal, pedih, dan kemerahan pada kulit di daerah kelamin. Pada daerah tersebut kemudian timbul beberapa lepuhan kecil, selanjutnya lepuh menjadi pecah dan menimbulkan luka. Dapat menular melalui hubungan seksual dan dapat pula ditularkan oleh ibu hamil kepada janinnya.
  4. Impotensi / Disfungsi ereksi : Impotensi adalah ketidakmampuan untuk memulai dan mempertahankan ereksi.  Impotensi biasanya merupakan akibat dari : kelainan pembuluh darah, kelainan persyarafan, obat-obatan, kelainan pada penis, dan masalah psikis yang memengaruhi gairah seksual. 
  5. Kanker Serviks / Kanker Leher Rahim : Adalah sejenis kanker yang 99,7% disebabkan oleh human papilloma virus (HPV) onkogenik, yang menyerang leher rahim.
  6. Keputihan / Flour Albus : Penyakit yang dialami perempuan ini disebabkan oleh berbagai parasit, antara lain jamur Candida albicans, Protozoa dari jenis Trichomonas vaginalis, bakteri, dan virus. Keputihan yang disebabkan oleh infeksi biasanya disertai dengan rasa gatal di dalam vagina dan di sekitar bibir vagina bagian luar. Infeksi ini dapat menjalar dan menimbulkan peradangan ke saluran kencing, sehingga menimbulkan rasa pedih saat si penderita buang air kecil. Gejalanya dapat dilihat dari keluarnya cairan berwarna putih kekuningan atau putih kelabu dari saluran vagina. Cairan ini dapat encer atau kental, dan kadang-kadang berbusa. Mungkin gejala ini merupakan proses normal sebelum atau sesudah haid pada wanita tertentu. Pada penderita tertentu, terdapat rasa gatal yang menyertainya.
  7. Sifilis : Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum. Tanda-tanda sifilis, antara lain terjadinya luka pada alat kelamin, rektum, lidah, dan bibir; pembengkakan getah bening pada bagian paha; bercak-bercak di seluruh tubuh; tulang dan sendi terasa nyeri ruam pada tubuh, khususnya tangan dan telapak kaki. Dapat ditularkan terutama melalui hubungan seksual. Penyakit ini dapat disembuhkan jika dilakukan pengobatan dengan penggunaan antibiotik secara cepat.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar